Utiliasi Palapa Ring Tengah dan Timur di Bawah 40%, Barat Hampir 70%

Redaksi
Sabtu, 9 Maret 2024 | 08:59 WIB
Pekerja mengawasi proses bongkar muat kabel serat optik proyek Palapa Ring Paket Timur di Depo PT. Communication Cable Systems Indonesia (CCSI), Cilegon, Banten, Selasa (5/6/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan
Pekerja mengawasi proses bongkar muat kabel serat optik proyek Palapa Ring Paket Timur di Depo PT. Communication Cable Systems Indonesia (CCSI), Cilegon, Banten, Selasa (5/6/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) melaporkan utilisasi Palapa Ring Tengah dan Timur masih rendah, sementara itu Palapa Ring Barat lebih diminati. 

Berdasarkan data Bakti pada 2023,  utilisasi Palapa Ring menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara wilayah barat, tengah, dan timur. 

Utilisasi Palapa Ring Barat mencapai 69%, sementara itu di wilayah Tengah dan Timur, utilisasinya masing-masing adalah 37,67% dan 37,38%. 

Direktur Utama Bakti Fadhilah Mathar mengatakan perbedaan ini mencerminkan tantangan yang berbeda dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi di berbagai wilayah Indonesia, serta menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan akses internet di seluruh negeri.

“Doakan yah 2024 makin membaik,” kata wanita yang akrab disapa Indah, Jumat (9/3/2024). 

Pekerja sedang mempersiapkan SKKL Palapa Ring
Pekerja sedang mempersiapkan SKKL Palapa Ring

Indah menargetkan utilitasi Palapa Ring selalu meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu caranya adalah dengan menggelar jaringan pengalur yang memadai supaya bisa dimanfaatkan sampai last mile atau akses.

Bakti, kata Indah, juga akan mengubah model-model bisnis untuk Palapa Ring Timur agar makin menarik dan utilisasi makin tinggi. 

"Palapa Ring Barat cukup tinggi, Paring Tengah makin membaik, Papua tahun pertama sampai tahun kedua itu hanya 10%, sekarang sudah makin membaik," kata Indah.

Dalam upaya meningkatkan akses internet di seluruh Indonesia, Bakti juga terus mengembangkan infrastrukturnya termasuk melalui proyek Palapa Ring Integrasi. Proyek ini masih dalam tahapan studi kelayakan atau feasibility study serta evaluasi.

Evaluasi ini dilakukan dengan tujuan agar proyek dapat melibatkan lebih banyak pihak terkait, termasuk operator seluler, asosiasi telekomunikasi seperti APJATEL, serta penyedia jasa telekomunikasi lainnya.

Dengan melibatkan lebih banyak pihak, Bakti berharap bahwa proyek ini dapat mencapai cakupan yang lebih luas dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Indah menuturkan bahwa Palapa Ring Integrasi dianggap sangat penting karena menargetkan kecepatan internet 100 Mbps untuk fixed broadband, yang mengharuskan dilakukannya fiberisasi. 

“Palapa ring integrasi itu sangat penting karena dengan menargetkan 100 mbps fixed boradband maka fiberisasi harus kita lakukan,” ujarnya.

Indah juga mengatakan bahwa masih ada sekitar 630 site BTS 4G yang belum selesai, dengan mayoritas terdapat di wilayah Papua. Faktor keamanan menjadi penyebab titik tersebut belum terbangun BTS. 

“Pada 6 Maret 2024 sekitar 118 site sudah siap memberikan layanan di Papua. Namun, beberapa lokasi yang memang secara kondisi keamanan tidak bisa dikontrol kita akan melakukan relokasi,” ujarnya dalam acara Ngopi Bareng Kominfo. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Redaksi
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper