5G Disebut Masih Jadi Pelengkap 2024 Meski Ada Lelang 700 MHz, Ini penyebabnya

Crysania Suhartanto
Senin, 1 Januari 2024 | 15:37 WIB
Seorang wanita mengoperasikan ponselnya di dekat logo teknologi 5G./REUTERS-Sergio Perez
Seorang wanita mengoperasikan ponselnya di dekat logo teknologi 5G./REUTERS-Sergio Perez
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat memprediksi operator seluler masih belum memprioritaskan pengembangan teknologi 5G pada 2024, seiring dengan kasus pemanfaatan (use case) yang minim. Belum ada aplikasi yang benar-benar membutuhkan 5G untuk beroperasi. 

Pengamat teknologi Agung Harsoyo mengatakan saat ini usecase 5G yang sudah tersedia di Indonesia hanya enhanced mobile broadband (eMBB). Padahal, sebenarnya ada dua usecase lainnya yang juga dapat dilakukan dengan jaringan 5G.

“Dengan demikian, sepertinya pada 2024, operator seluler (opsel) masih menerapkan konsep BTS umbrella, yakni 2G, 4G, dan 5G secara sekaligus. Adapun tahun ini masih akan didominasi 4G,” ujar Agung kepada Bisnis, Senin (1/1/2024).

Diketahui, eMBB merupakan usecase penggunaan 5G bagi manusia. Adapun contoh paling nyatanya adalah pengiriman data yang lebih cepat daripada jaringan 4G. 

Adapun untuk penggunaan 5G lainnya, yakni machine type communication (MTC), biasa digunakan untuk perangkat pintar (IoT). Kemudian adapula low latency communications (URLLC) yang diimplementasikan dalam sistem mobil otomatis. 

Menurutnya, kedua use.case inilah yang belum ditemui di Indonesia. Aplikasi ini baru akan hadir jika Indonesia telah memiliki jaringan 5G yang merata. 

"Boleh jadi ini persoalan telur dan ayam. Jika 5G tergelar secara masif, self-driving car akan tumbuh," kata Agung. 

Kendati demikian, Agung mengatakan 5G masih memiliki potensi yang besar untuk berkembang pada 2024. Apalagi, dengan adanya lelang pita frekuensi 700 MHz dan 26 GHz. 

“(Kedua pita tersebut) bisa jadi memainkan peran terkait tergelarnya 5G,” ujar Agung.

Oleh karena itu, Agung mengatakan hal ini merupakan kesempatan yang baik bagi tiga pihak sekaligus, yakni industri telekomunikasi, masyarakat, terlebih pemerintah.

Untuk pemerintah, kata Agung, instansi ini dapat membuat penggelaran 5G menjadi lebih masif dengan memberikan insentif yang menarik pada lelang ini.

“Jika pemerintah memberi insentif yang menarik pada lelang ini, akan mempercepat penggelaran 5G di Indonesia,” ujar Agung. 

Sebagai informasi, terkait insentif sebenarnya Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) sempat mengatakan akan memberikan insentif biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi hanya diberikan pada operator yang memberikan layanan 5G.

Adapun Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemenkominfo Usman Kansong mengatakan insentif ini diberikan guna mempercepat kecepatan internet di Indonesia. 

Menurutnya, saat ini Indonesia berada di posisi 98 sebagai dalam hal kecepatan internet. Padahal, menurut Usman, kecepatan internet berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. 

Lebih lanjut, berdasarkan studi yang dilakukan perusahaan teknologi Google, setiap pertambahan kecepatan 10 gbps dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 1%.

Oleh karena itu, Usman juga mengatakan frekuensi 700 Mhz yang akan dilelang di akhir 2023 ataupun awal 2024 akan digunakan untuk mendukung penyelenggaraan jaringan 5G di Indonesia. 

“700 Mhz itu mau kita pakai untuk 5G, tujuannya itu untuk mempercepat internet kita,” ujar Usman. 

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper