Cloudera Sebut AI Menjadi Kunci Perusahaan untuk Jawab Tantangan Ekonomi

Restu Wahyuning Asih
Senin, 18 Desember 2023 | 22:03 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan/doc.Microsoft
Ilustrasi kecerdasan buatan/doc.Microsoft
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perekonomian global diprediksi akan terus mengalami pergolakan. Hal ini sejalan dengan adanya inflasi yang meningkat, suku bunga yang naik, dan ketidakstabilan harga minyak.

Pergolakan ini tentunya akan menjadi angin kencang yang bergerak menuju wilayah Asia Pasifik (APAC). Dari sini, para pemimpin bisnis di kawasan APAC pun harus membangun resiliensi dan melakukan manajemen risiko dengan bijak.

Remus Lim, Vice President APAC & Jepang, Cloudera, mengatakan bahwa situasi seperti ini, konsep antifragility yang dijelaskan oleh penulis Nassim Nicholas Taleb, menjadi semakin relevan.

“Tahun 2024 diperkirakan akan menjadi periode kritis di mana organisasi perlu memperkuat pertahanan mereka terhadap tekanan ekonomi yang berat,” kata Remus dalam siaran resmi yang diterima Bisnis, Senin (18/12/2023).

Remus mengatakan, perusahaan perlu mempertimbangkan hal-hal di luar perekonomian agar tak salah langkah saat membuat keputusan-keputusan bisnis yang krusial.

Ia pun menyarankan perusahaan mengadopsi strategi bisnis jangka panjang dengan mendedikasikan sumber daya untuk infrastruktur dan meningkatkan kapasitas talenta mereka, sehingga mereka bisa bertumpu pada inovasi dan menjadi antifragile.

Salah satu cara yang bisa ditempuh yakni dengan berinvestasi pada transformasi digital untuk membuat perusahaan meningkatkan inisiatif dan efisiensi untuk mengurangi biaya dan memaksimalkan sumber daya.

Dengan cara mengadopsi teknologi seperti generative AI, perusahaan diharapkan bisa menjawab tantangan bisnis di tengah pergolakan ekonomi yang tidak stabil.

Mengikutsertakan AI tidak hanya sebagai tren terkini tetapi sebagai bagian integral dari strategi bisnis adalah kunci untuk mendapatkan manfaat maksimal.

Untuk memaksimalkan AI, maka dibutuhkan data yang terpercaya.

“Anda perlu mempercayai AI agar Anda mempercayai datanya. Jika Anda tidak mempercayai datanya, Anda tidak bisa mempercayai AI tersebut. Tidak mempercayai AI itu berbahaya terlebih jika Anda membuat sesuatu yang keputusannya itu dibuat oleh mesin,” lanjut Remus.

Tantangan ini kemudian dijawab oleh pelaku ekonomi seperti Tina Lusiana, VP IT Business Intelligence and Analytics dari Telkomsel.

"Mengingat besarnya jumlah aliran data yang masuk dan pertumbuhan besaran data yang masif, Telkomsel memutuskan untuk beralih dari solusi lama yang bersifat proprietary ke Cloudera Flow Management dan Cloudera Stream Analytics yang dibangun dengan kerangka arsitektur yang bersifat terbuka untuk pengumpulan dan pemrosesan data," papar Tina.

Sejalan dengan itu, OCBC Indonesia yang juga mengadopsi teknologi Cloudera mengatakan bahwa penerapkan teknologi data modern melalui proyek generative AI merupakan salah satu tonggak penting bagi bank untuk tetap berada di bagian terdepan.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper