Satelit Satria-1 Tiba di Orbit, Bertahap Kurangi Kesenjangan Internet

Leo Dwi Jatmiko
Rabu, 1 November 2023 | 14:03 WIB
Satelit Satria saat diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat/doc. istimewa
Satelit Satria saat diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat/doc. istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) melaporkan Satelit Multifungsi Satria-1 telah sampai di orbit 146 bujur timur (BT) dan tengah melakukan serangkaian uji coba sebelum beroperasi secara penuh.

Sektor kesehatan menjadi salah satu sektor potensial yang akan dilayani Satelit Satria-1, terlebih saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mengebut digitalisasi rumah sakit di 514 titik. 

Direktur Utama Bakti Kemenkominfo Fadhilah Mathar mengatakan hadirnya Satria-1 akan  meningkatkan konektivitas  layanan publik dan layanan pemerintah, termasuk di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). 

Dengan beroperasinya Satelit SATRIA 1 dapat  segera  mengkoneksikan titik-titik layanan publik yang terdiri atas sarana pendidikan, pemerintah daerah, administrasi pertahanan keamanan, dan fasilitas kesehatan di seluruh wilayah Indonesia. 

“Satria-1 akan secara bertahap mengurangi kesenjangan akses broadband internet yang disebabkan beragam kondisi geografis dan kondisi masyarakat Indonesia  yang cukup menantang dalam penyediaan jaringan teresterial,” kata Fadhilah, dikutip Rabu (1/11/2023).

Fadhilah menjelaskan untuk sampai pada tahap operasi penuh pada akhir Desember 2023, Satria—1 akan menjalani tahapan selanjutnya yaitu sesi integrasi dan pengujian segmen satelit dan segmen ruas bumi. 

Satria-1 akan menjalani tahapan In-Orbit Testing (IOT) pada awal November untuk memeriksa performa satelit terutama untuk subsistem payload. Setelah itu, Satria-1 akan menjalani proses integrasi dengan sistem ground dan ujicoba end-to-end agar siap beroperasi,

Untuk segmen ruas bumi, seluruh proses instalasi Radio Frequency Gateway (RFGW) 13 meter maupun Carrier System Monitoring (CSM) SATRIA-1 di sebelas gateway atau stasiun pengendali di bumi saat ini telah dirampungkan.

Gateway Satelit Satria-1 di Timika
Gateway Satelit Satria-1 di Timika


Demikian pula kegiatan OSAT (on site acceptance test) untuk perangkat RFGW maupun CSM juga telah dirampungkan. OSAT merupakan kegiatan pengetesan dan pengecekan site guna memastikan kesiapan perangkat sebelum beroperasi. Kegiatan OSAT di setiap lokasi dilakukan terhadap perangkat RFGW serta CSM.

Ada 11 stasiun bumi yang tersebar di seluruh Indonesia: GW01 Batam, Kepulauan Riau; GW02 Cikarang, Jawa Barat; GW03 Pontianak, Kalimantan Barat; GW04 Banjarmasin, Kalimantan Selatan; GW05 Tarakan, Kalimantan Utara; GW06 Manado, Sulawesi Utara; GW07 Kupang, NTT; GW08 Ambon, Maluku; GW10 Timika, Papua; GW11 Jayapura, Papua.

Di sisi lain, permintaan terhadap akses internet terus meningkat khususnya untuk sektor kesehatan. 

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Kemenkes akan merevitalisasi serta mendigitalisasi seluruh puskesmas dan posyandu di Tanah Air.

Targetnya, sebanyak 10.000 puskesmas dan 300.000 posyandu di Indonesia sudah terstandardisasi pada akhir tahun ini. Mereka akan memiliki satu aplikasi yang dapat diintegrasikan. 

Ilustrasi pemeriksaan kesehatan di puskesmas
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan di puskesmas

Bulan depan, Budi menargetkan skrining data timbangan bayi, gula darah, dan hipertensi sudah masuk ke dalam sistem.

Namun dalam upaya mencapai hal itu, Kemenkes menghadapi kesulitan akses internet. Dari 10.000 puskesmas, terdapat 2.500 unit yang masih bermasalah dari sisi konektivitas.

Kekosongan konektivitas membuat puskesmas kesulitan dalam mengakses data dan melakukan komunikasi jarak jauh untuk membantu diagnosis. 

Tidak semua puskemas, bahkan rumah sakit, memiliki dokter spesialis yang mumpuni. Oleh sebab itu, petuah dan masukan dari dokter spesialis akan sangat berguna untuk menghadapi kasus-kasus yang terdapat di daerah terpencil dengan bantuan internet. 

“Jadi rumah sakit di 514 kabupaten akan melakukan diperiksa kanker, treatment dengan alat tertentu, kemudian di mirror pakai aplikasi Zoom untuk dilihat oleh dokter spesialis di 34 provinsi. Sama USG, kalau komplikasi harus di telehealth kan dengan 5.000 dokter spesialis,” kata Budi. 

Dia mengatakan untuk melakukan pemeriksaan dan diagnosis jarak jauh seperti itu, membutuhkan bandwidth. Butuh infrastruktur telekomunikasi. Jadi kalau selama ini kesehatan dilihat sebagai sektor yang tidak berkontribusi terhadap perusahaan telekomunikasi, 5-10 tahun ke depan akan sangat berbeda. 

“Dan semua harus tahu bahwa kesehatan adalah prioritas utama semua manusia,” kata Budi. 

Satelit Satria di orbit
Satelit Satria di orbit

Sekadar informasi, Satelit Satria-1 rencananya akan melayani 37.000 titik di seluruh Indonesia. Jumlah itu berkurang dari target awal yang sebesar 150.000 titik. Alasan rasionalisasi titik tersebut adalah untuk memberikan bandwidth internet yang lebih besar per titik. 

Jika awalnya masing-masing titik hanya mendapat bandwidth 1 Mbps, dengan rasionalisasi maka setiap titik dapat memperoleh akses internet yang lebih besar dan cukup untuk melakukan panggilan video. 

Direktur Layanan TI Bakti Kemenkominfo Bambang Noegroho mengatakan mayoritas dari titik yang mendapat layanan Bakti nantinya adalah sektor pendidikan dan kesehatan dengan porsi 60% dan 30%. 

“Tetapi kami tidak menampik kebutuhan untuk beberapa hal seperti layanan publik dan pertahanan keamanan,” kata Bambang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper