Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Angel Investor Sedikit, Dana Pengembang Game Seret

Pengembang game sulit mendapatkan kucuran dana dari angel investor dan sebagian besar masih mengandalkan dana pribadi untuk kegiatan produksi dan operasional perusahaan.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 03 Mei 2021  |  19:12 WIB
Ilustrasi aplikasi mengenai batik, dari edukasi hingga game, di perangkat iOS dan Android. - Antara
Ilustrasi aplikasi mengenai batik, dari edukasi hingga game, di perangkat iOS dan Android. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Kebutuhan angel investor di Tanah Air dinilai masih sangat tinggi mengingat banyak perusahaan rintisan (startup) khususnya pengembang game yang jarang mendapat kucuran dana.

Berdasarkan riset Peta Ekosistem Industri Game Indonesia 2020 masalah pendanaan dinilai masih menjadi momok bagi para pengembang gim lokal, di mana sebesar 67,5 persen mengaku masih mengandalkan dana pribadi untuk kegiatan produksi dan operasional perusahaan mereka sendiri.

Sementara itu, responden lainnya mendapatkan dana dari Angel Investment (10,8 persen), Venture Capital Investment (4,8 persen), Inkubator atau akselerator (3,6 persen), Crowdfunding (1,2 persen), dan sumber pendanaan lainnya (12 persen).

Adapun mayoritas investor yaitu sekitar 60 persen berasal dari dalam negeri, sedangkan dari luar negeri berkisar 30 persen, dan investor gabungan dari keduanya sebesar 10 persen.

Menanggapi hal tersebut, pendiri dan partner Impactto Italo Gani mengamini bahwa kebutuhan modal ventura dan angel investor masih amat tinggi. Sebab, jika ingin mampu bersaing dengan kompetitor asing, maka pengembang lokal harus siap untuk didukung dari segi pendanaan.

“Memang secara keseluruhan jumlah investor atau modal ventura di Indonesia masih terbilang kurang, bahkan jika dibandingkan dengan negara China, Amerika Serikat, dan lainnya kita masih sedikit, masih butuh lebih banyak,” kata Gani, Senin (3/5/2021).

Lebih lanjut, dia mengatakan saat ini antisipasi ideal adalah menghadirkan ruang inkubasi sebagai salah satu jawaban untuk berfokus ke product market fit (kesesuaian produk/pasar) tiap pengembang lokal.

“Kesesuaian produk ini kunci utama sebuah investasi, karena kalau sudah mencapai kesesuaian terhadap pasar, maka modal ventura lebih mudah untuk yakinkan langkah mereka untuk menyuntikan dana,” ujarnya.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Semuel Abrijani Pangerapan pun mengatakan bahwa jika berbicara mengenai perusahaan rintisan dan pengembang gim, maka early stage menjadi momentum krusial untuk meraih pendanaan.

“Early stage itu krusial karena bagaimana mereka [pengembang gim] diharuskan menjual ide yang belum lengkap atau dalam bayangan sehingga itu yang mempengaruhi pendanaan ke sektor ini,” katanya.

Menurutnya, ke depan Indonesia memang masih membutuhkan banyak angel investor untuk mengaktualisasi perusahaan rintisan dan pengembang gim yang sudah ada di Indonesia agar lebih mudah terdata dan mendapat suntikan dana. Sebab, dia mengakui untuk saat ini keuangan Negara belum siap untuk menyuntikan dana ke startup yang berfokus untuk pengembangan gim.

“Keuangan Negara kita belum siap, tetapi pemerintah mengantisipasi ini dengan menghadirkan program inkubasi dan akselerator seperti Startup Studio. Meskipun belum bisa memberikan pendanaan, tetapi kami menyediakan ruang agar momentum early stage bisa dimaksimalkan dengan baik dan matang,” kata Semuel.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

game
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top