Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Akankah Nasib 5G Indonesia Berakhir Seperti 4G di Pita 900 MHz?

Indonesia pernah punya pengalaman buruk dalam menggunakan frekuensi untuk mengadopsi suatu teknologi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 22 Januari 2021  |  14:35 WIB
Petugas Telkomsel meninjau peningkatan kapasitas jaringan di salah satu BTS di Sumatra Bagian Selatan. istimewa
Petugas Telkomsel meninjau peningkatan kapasitas jaringan di salah satu BTS di Sumatra Bagian Selatan. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pengamat telekomunikasi menilai ekosistem perangkat, jaringan dan aplikasi menjadi bagian penting dalam pengembangan sebuah teknologi. Saat ini untuk 5G, ekosistem yang telah berkembang adalah ekosistem di frekuensi 2,6 GHz dan 3,5 GHz.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai penggelaran 5G di pita frekuensi 2,3 GHz terlalu dipaksakan. Sejauh ini ekosistem 5G di pita tersebut belum terlalu matang.

Ekosistem yang kurang matang akan berdampak pada harga perangkat yang mahal dan sulit didapat. Penggunaan gawai 5G pun kemungkinan hanya dapat digunakan di beberapa negara yang telah mengadopsi 5G di pita 2,3 GHz.

“Tegas saja ikutin frekuensi mana banyak negara menggunakan untuk teknologi 5G, yaitu saat ini adalah 3,5 GHz dan 2,6GHz,” kata Heru kepada Bisnis, Jumat (22/1/2021).

Heru menambahkan Indonesia pernah punya pengalaman buruk dalam menggunakan frekuensi untuk mengadopsi suatu teknologi.

Saat itu Indonesia mengembangkan Wimax di 2,3 GHz dan alokasi 4G di 900 MHz. Kedua teknologi tersebut tidak berkembang karena ekosistemnya tidak matang.

Pada saat itu, sebut Heru, pengguna kesulitan mendapatkan ponsel 4G yang bekerja di frekuensi 900 MHz. Pembangunan alat pemancar atau Base Transceiver Station (BTS) juga tidak banyak karena mahal.

Ekosistem global cenderung menggunakan pita 1800 MHz untuk 4G. Alhasil, ketika frekuensi 4G dipindahkan ke 1800 MHz adopsi teknologi 4G LTE berkembang pesat.

Heru berpendapat pengguna spektrum 2,3 GHz untuk 5G, berisiko seperti pengguna spektrum 900 MHz untuk 4G atau 2,3 GHz untuk Wimax.

“Nampaknya seperti itu. Sebab, trennnya [ekosistem global] di pita 3,5GHz, 2,5/2,6GHz dan 700 MHz,” kata Heru.

Sebelumnya, Chief Corporate Affairs XL Axiata Marwan O. Baasir juga mengatakan hal serupa. Marwan menuturkan berdasarkan data pemasok seluler global (Global mobile Suppliers Association /GSA) November 2020, jumlah perangkat seluler yang mendukung 5G di pita frekuensi 2,3 GHz masih sekitar 50 perangkat.

Jumlah tersebut seperlima dari jumlah perangkat seluler yang telah mendukung 5G di pita 2,6 GHz dan 3,5 GHz, yang masing-masing berjumlah 269 perangkat dan 299 perangkat seluler.

Marwa menjelaskan untuk pita perangkat seluler yang mendukung 5G di pita 1800 MHz sebanyak 180 perangkat, atau berada di urutan ke enam. XL sempat melakukan uji coba 5G dengan menggunakan frekuensi 4G di pita 1800 MHz dengan menggunakan teknologi Dynamic Spectrum Sharing (DSS).

“2,3 Ghz itu berada diurutan ke-16 [secara global] per November kira-kira ada 50 unit,” kata Marwan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

frekuensi teknologi 5G
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top