Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mesin Penampung IMEI Penuh, Industri Ponsel Bisa Rugi Rp7 Triliun

Industri ponsel diklaim bisa mengalami kerugian hingga Rp7,2 triliun jika tidak ada solusi terkait dengan kapasitas penampung nomor IMEI yang penuh.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  14:52 WIB
Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2020). Pemerintah beserta operator seluler sepakat akan tetap memberlakukan aturan blokir Internasional Mobile Equipment Identity (IMEI) mulai 18 April 2020 dalam upaya memberantas ponsel atau HP ilegal yang banyak beredar di pasaran. - ANTARA FOTO/Septianda Perdana
Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2020). Pemerintah beserta operator seluler sepakat akan tetap memberlakukan aturan blokir Internasional Mobile Equipment Identity (IMEI) mulai 18 April 2020 dalam upaya memberantas ponsel atau HP ilegal yang banyak beredar di pasaran. - ANTARA FOTO/Septianda Perdana

Bisnis.com, JAKARTA – Pendiri dan pemerhati gawai dari komunitas Gadtorade, Lucky Sebastian turut mengomentari penuhnya mesin Centralized Equipment Register (CEIR) sehingga tidak bisa menampung pendaftaran IMEI ponsel baru.

Menurutnya, banyak vendor resmi yang terpaksa menahan produksi saat ini. Dia pun melihat bahwa bila kendala ini tidak dapat segera diatasi akan memberikan kerugian lebih tinggi yang tidak hanya untuk pelaku, tetapi juga pada negara.

Dia memberikan ilustrasi jika dalam satu tahun ponsel yang beredar di Indonesia sebanyak 50 juta unit. sehingga dalam sehari terdapat 137.000 unit ponsel yang akan dipasarkan. Adapun, bila dipukul rata satu ponsel seharga Rp2,5 juta rupiah, maka akan terjadi kerugian Rp342,5 miliar dalam sehari bagi industri ponsel.

“Sejak 23 September, dikabarkan mesin CEIR ini sudah tidak bisa menginput data IMEI, berarti sekarang sudah hampir 3 minggu. Kalau benar terhenti semua [potensi kerugian] nilainya bisa mencapai Rp7,2 triliun,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (13/10/2020).

Dia pun menyarankan untuk mematikan sistem CEIR menjadi solusi tercepat yang bisa dilakukan saat ini. Pasalnya, menjelang akhir tahun adalah salah satu waktu utama bagi industri untuk menggenjot penjualan.

Akhir tahun, biasanya para vendor resmi secara global akan mengeluarkan banyak tipe ponsel pintar baru seiring dengan peningkatan belanja masyarakat. Apabila vendor tidak bisa mendaftarkan IMEI ponsel barunya, maka kerugian yang dialami bisa sangat besar.

Lebih lanjut, dia mengatakan bila penjualan terganggu, maka dampak buruk tidak akan menimpa vendor resmi saja, tetapi akan berkorelasi ke banyak pihak, salah satunya PHK karyawan, kerugian distributor, retailer, penjual asesoris, operator, dan lainnya.

“Nah yang dibutuhkan vendor adalah cara tercepat, jadi kalau penambahan kapasitas dan cleansing butuh waktu, sebaiknya matikan dulu saja mesin CEIR ini, sampai cleansing dan penambahan kapasitas siap, dihidupkan kembali,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gadget imei
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top