Terbuai Kenangan Mantan

Kopi Kenangan hadir dengan model bisnis new retail yang mengombinasikan kenyamanan dan pilihan belanja daring dengan sentuhan dan rasa dari pengalaman berbelanja tatap muka.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  11:55 WIB
Terbuai Kenangan Mantan
Aplikasi Kopi Kenangan. - Kopikenangan.com

Bisnis.com, JAKARTA — Masih lekat dalam ingatan, media sosial generasi milenial di Ibu Kota pada tahun lalu sempat diramaikan oleh viralnya fenomena kenangan mantan. Jangan salah, kenangan mantan yang dimaksud bukanlah nostalgia dengan bekas kekasih hati, melainkan nama merek produk es kopi gula aren milik perusahaan rintisan bernama Kopi Kenangan.

Berawal dari gerai kecil di kawasan perkantoran Jakarta, kini Kopi Kenangan tengah menyiapkan dirinya untuk dapat dinikmati di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut dimungkinkan setelah perusahaan berhasil menutup ronde pendanaan terbaru senilai US$20 juta dari Sequoia India. 

Kopi Kenangan didirikan pada 2017 oleh Edward Tirtanata dan James Prananto, dengan tujuan mengisi kesenjangan antara kopi berharga mahal yang disajikan di jaringan kedai kopi internasional dengan kopi instan yang dijual di pinggir jalan.  Latar belakang Edward yang sebelumnya bekerja di agensi periklanan menjadi sosok kreatif di balik keunikan nama produknya.  

Co-Founder dan CEO Kopi Kenangan Edward Tirtanata menyatakan Indonesia merupakan eksportir kopi keempat terbesar di dunia, namun dengan tingkat konsumsi kopi per kapita terendah di kawasan karena tidak adanya jaringan kopi lokal yang terjangkau.

“Misi kami membawa kopi berkualitas tinggi yang dibuat dengan bahan lokal paling segar kepada konsumen di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara,” ujarnya.

Nama produk yang “receh”  seperti Kopi Kenangan Mantan, Kopi Mantan Menikah, Kopi Lupakan Dia,  terbukti mengundang selera humor generasi milenial untuk ramai-ramai membagikan produk tersebut ke media sosial. Selain itu, harga produk yang terjangkau dibandingkan kopi yang dijual  jaringan kedai kopi internasional dan kemasan praktis dalam gelas plastik juga cocok dengan gaya hidup masyarakat urban yang menuntut kecepatan.

Bermodalkan Rp150 juta, Kopi Kenangan awalnya memiliki delapan gerai. Viralnya produk tersebut di media sosial turut membuat bisnisnya berkembang cepat hingga memiliki 16 kedai dan melayani 175.000 gelas per bulan pada Oktober 2018.

Perkembangan Kopi Kenangan yang cukup pesat juga tak luput dari perhatian investor. Pada Oktober 2018, perusahaan modal ventura Alpha JWC Ventures menyuntikkan pendanaan tahap awal senilai US$8 juta.

Dana tersebut digunakan perusahaan untuk ekspansi dan mengembangkan teknologi, khususnya pengembangan aplikasi yang dirilis pada April 2019.  Adapun saat ini, perusahaan telah memiliki total 80 kedai di delapan kota dan melayani hampir 1 juta gelas kopi setiap bulannya.

Co-Founder dan Chief Operating Officer (COO) Kopi Kenangan James Prananto menyatakan pendanaan terbaru dari Sequoia akan digunakan untuk mempercepat pertumbuhan dengan membuka 150 kedai hingga akhir tahun ini dan bahkan mencapai 1.000 kedai di seluruh Indonesia pada 2021. Setelah menjangkau Jabodetabek dan Surabaya, kini perusahaan akan ekspansi ke kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Malang, Gresik, Yogyakarta, hingga kota di luar Pulau Jawa seperti Makassar dan Medan.

Selain itu, pihaknya telah mengidentifikasi setidaknya empat negara di Asia Tenggara yang menjadi tujuan ekspansinya. Keempat negara tersebut ialah Malaysia, Vietnam, Thailand dan Singapura.

“Masih dalam tahap penjajakan, cuma kita sudah identifikasi ada beberapa negara yang kemungkinan kita mau masuk Malaysia, Vietnam, Thailand dan Singapura. Kita mau ke luar Indonesia, persiapan timnya kan butuh enam sampai satu tahun sebelumnya,” ujarJames kepada Bisnis, Selasa (25/05).

James optimistis, produk es kopi gula aren yang menjadi andalannya dapat diterima di keempat negara tersebut. Pasalnya, produk tersebut merupakan ciri khas asal Indonesia yang tidak dapat ditemui di kedai kopi jaringan internasional. Selain itu, faktor tingkat konsumsi kopi per kapita dari keempat negara tersebut juga dinilai lebih tinggi dari Indonesia sehingga memberikan peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

Dalam hal teknologi, James menyebut pengembangan aplikasi juga berhasil meminimalisir potensi pesanan hilang akibat antrean yang selama ini terjadi di kisaran 10% hingga 15%. Dengan aplikasi, pelanggan dapat memesan terlebih dahulu pesanan kopinya untuk diambil kemudian maupun untuk diantarkan langsung ke tempatnya. 

Selain aplikasi, James menyatakan perusahaan juga tengah mengembangkan teknologi IoT dan data analytics untuk membuat sistem logistiknya menjadi lebih efisien.

“Kami  juga walaupun kami tetap ada penjualan kopi tradisional, sebagai startup ada beberapa sisi teknologi yang kita kembangkan. Pendanaan ini akan kita gunakan untuk menambah human resources dan tim teknologi,” ujarnya.

Dia menambahkan, para pendiri Kopi Kenangan meyakini bahwa perusahaan rintisan ini dapat mendisrupsi secara signifikan bisnis makanan dengan model bisnis ritel baru atau new retail, yang mengombinasikan kenyamanan dan pilihan belanja daring dengan sentuhan dan rasa dari pengalaman berbelanja secara langsung atau luring.

Meski demikian, perjalanan Kopi Kenangan untuk menggapai mimpinya tentu masih cukup panjang untuk disimak. Selain menghadapi kompetisi dengan sesama produsen kopi berbasis aplikasi, bisnis kopi di Tanah Air juga kian menjamur. Sanggupkah es kopi Kenangan Mantan bertahan melawan persaingan? Kita lihat saja. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
alpha jwc, new retail

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top