Orang Indonesia Rela Rogoh Kantong Lebih Dalam demi 5G

Augmented reality (AR) dan hubungan telepon menggunakan holografik 3D akan menjadi dua fitur yang mendorong konsumen terdorong memanfaatkan teknologi 5G.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  08:47 WIB
Orang Indonesia Rela Rogoh Kantong Lebih Dalam demi 5G
Siluet pengunjung pada pameran Do Zone Ericsson Indonesia di Jakarta, Selasa (17/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pengguna ponsel pintar di Indonesia bersedia membayar hingga Rp50.000 lebih mahal untuk paket data demi mengadopsi teknologi 5G.

ConsumerLab Ericsson memaparkan sejumlah hasil temuan mengenai 5G untuk konsumen. ConsumerLab juga menguraikan peluang yang tersedia untuk penyedia layanan komunikasi

ConsumerLab Ericsson melakukan penelitian dengan mewawancarai 3.5000 pelanggan yang tersebar di 22 negara. Dari total tersebut, sebanyak 1.500 pelanggan berasal dari Indonesia dan mewakili opini 41 juta pengguna ponsel pintar.

Berdasarkan penelitian tesebut ditemukan bahwa pengguna smartphone bersedia membayar harga layanan data Rp30.000 lebih mahal untuk menikmati layanan 5G. Tidak hanya itu, disebutkan pula bahwa early adopter bersedia membayar Rp50.000 lebih besar dari uang yang biasa digunakan untuk membeli paket data 4G.

Berdasarkan survei yang sama, realitas tertambah atau augmented reality (AR) dan hubungan telepon menggunakan holografik 3D akan menjadi dua fitur yang  mendorong konsumen terdorong memanfaatkan teknologi 5G.

Rata-rata penggunaan data ponsel melalui perangkat 5G dapat meningkat hingga 60 GB per bulan dan pengguna ponsel pintar dengan konsumsi data yang besar dapat menghabiskan 110 GB setiap bulannya.

Sebagai tambahan, sekitar 40% pengguna smartphone di Indonesia percaya bahwa smartphone tidak akan dapat memanfaatkan penuh teknologi  5G. Responden juga percaya bahwa penggunaan kaca mata AR bakal populer pada 2025.

Di Indonesia, konsumen mengharapkan pengalaman baru berinternet dengan 5G dapat membawa dampak positif bagi berbagai sektor dari aplikasi untuk konsumen hingga industri otomotif. Sebanyak 75% responden percaya kecepatan internet ultra-high dan keandalan konektivitas teknologi 5G dapat memfasilitasi masyarakat untuk bekerja di mana saja. Sementara itu, 67% responden mengatakan bahwa konektivitas internet 5G di mobil akan sama pentingnya dengan efisiensi bahan bakar dalam 5 tahun mendatang.

Jerry Soper, Head of Ericsson Indonesia mengatakan dengan hasil penilitian oleh ConsumerLab 2019 maka mematahkan mitos-mitos di industri ICT mengenai 5G. Ericsson juga menemukan fakta bahwa konsumen di Indonesia menantikan kehadiran 5G dan berharap generasi baru dari konektivitas mobile ini dapat mengubah segalanya (game changer).

“Bagi operator, hal tersebut menjadi keuntungan, bagi pemain bisnis ada potensi bisnis berupa penambahan pendapatan sebesar 30% dari pasar 5G di tahun 2026,” kata Soper di Jakarta (21/5/2019).

Soper menambahkan penelitian ini juga menemukan fakta bahwa konsumen, termasuk mereka yang tinggal di Indonesia, berharap agar 5G dapat membantu mengatasi kepadatan jaringan di perkotaan dalam waktu dekat .

Sebanyak 6 dari 10 pengguna ponsel pintar mengaku menghadapi permasalahan jaringan di wilayah padat penduduk. Para responden juga berharap akan ada lebih banyak pilihan home broadband yang tersedia seiring dengan peluncuran 5G.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ericsson, teknologi 5G

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top