Ekonomi Digital: 46 Startup Indonesia Serap Modal Total Rp56 Triliun pada 2018

Startup yang paling banyak menerima guyuran investasi berasal dari kategori dagang-el (e-commerce), teknologi finansial, solusi bisnis, pendidikan, dan teknologi kesehatan.
Syaiful Millah | 31 Januari 2019 10:02 WIB
Nadiem Makarim dari Go-Jek (dari kiri ke kanan), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, William Tanuwijaya dari Tokopedia, Ferry Unardi dari Traveloka, Kepala BKPM Thomas Lembong, dan Achmad Zaky dari Bukalapak dalam Nexticorn International Summit di Bali, Rabu (9/5/2018) - Bisnis - Demis Rizky Gosta

Bisnis.com, JAKARTA — Tahun 2018 merupakan periode penting bagi perkembangan industri usaha rintisan (startup) di dalam negeri. Riset yang dilakukan oleh platform media e27 menunjukkan bahwa ratusan startup lahir sepanjang tahun lalu.

Vice President Strategy Digitaraya Nicole Yap mengungkapkan berdasarkan riset tersebut, ada sekitar 480 startup baru yang dibentuk oleh anak bangsa pada 2018. Bahkan, lanjut Nocole Yap, dari jumlah tersebut terdapat 46 startup yang telah meraih pendanaan lebih dari US$4 miliar atau sekitar Rp56 triliun.

Adapun, usaha rintisan yang paling banyak menerima guyuran investasi berasal dari kategori dagang-el (e-commerce), teknologi finansial, solusi bisnis, pendidikan, dan teknologi kesehatan.

“Tahun kemarin menjadi tahun besar bagi startup Indonesia. Dunia startup di Indonesia terus berkembang pesat,” katanya, Rabu (30/1).

Dia melanjutkan bahwa hal tersebut didorong oleh tren anak muda dalam negeri yang tertarik menjadi pengusaha dan terlibat dalam industri startup. Menurut Yap, hampir 70% generasi milenial di Indonesia memiliki minat tehadap industri ini.

Selain itu Yap juga menyampaikan beberapa peluang di industri startup Indonesia pada tahun ini. Pertama, Indonesia dan negara lainnya di Asia Tenggara memiliki peran penting dalam rantai pasok global, misalnya makanan, layanan kesehatan, dan manufaktur. Hal ini sejalan dengan investasi yang masuk ke startup di bidang tersebut.

Kedua, berdasarkan perhitungan pertumbuhan investasi dari tahun sebelumnya, pada tahun ini diharapkan pendanaan yang masuk ke pelaku usaha rintisan di Indonesia mencapai US$9 miliar—US$10 miliar atau sekitar Rp126 triliun—Rp140 triliun.

Ketiga, Jakarta menjadi ibukota startup di Asia Tenggara menggantikan Singapura. Hal ini terlihat dari jumlah transaksi dan investasi yang terjadi.

Sementara itu, berdasarkan perspektif ekosistem, faktor yang mendorong proyeksi industri startup di dalam negeri pada tahun ini, yaitu ekonomi digital Indonesia yang mengalami pertumbuhan tercepat dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf menyampaikan berdasarkan riset yang dilakukan Google dan Temasek berjudul e-Conomy SEA 2018, nilai pasar ekonomi digital Indonesia pada tahun 2018 mencapai US$27 miliar.

Jumlah tersebut jauh berada di atas negara-negara lain di kawasan regional. Pada tahun yang sama, nilai pasar ekonomi digital Malaysia sebesar US$8 miliar, Filipina US$5 miliar, Singapura US$10 miliar, Thailand US$12 miliar, dan Vietnam sebesar US9 miliar.

“Dengan jumlah seperti itu, Indonesia menjadi negara yang hot bagi para investor di bidang digital. Oleh sebab itu prediksinya pada tahun mendatang Indonesia akan terus melesat jauh dari negara lainnya di Asia Tenggara,” katanya. 

Tag : StartUp, ekonomi digital
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top