Industri Penyiaran Dituntut Lebih Kreatif untuk Hadapi Netflix Cs

Crysania Suhartanto
Senin, 18 Maret 2024 | 20:34 WIB
Logo perusahaan-perusahaan digital seperti Netflix Inc., Amazon.com Inc.,  Facebook, dan Google yang dipotret di London, Inggris pada Senin (20/8/2018). - Bloomberg/Jason Alden
Logo perusahaan-perusahaan digital seperti Netflix Inc., Amazon.com Inc., Facebook, dan Google yang dipotret di London, Inggris pada Senin (20/8/2018). - Bloomberg/Jason Alden
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Industri penyiaran dituntut untuk lebih inovatif untuk dapat bertahan di tengah tekanan platform over the top (OTT) seperti Netflix, Disney Hotstar dan lain sebagainya. 

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan persaingan di industri televisi dengan OTT terus meningkat. 

Namun, Heru mengatakan industri televisi masih bisa bersaing di dunia baru ini, karena kualitas gambar dan suara dari televisi yang sudah jauh lebih baik. Akan tetapi, perusahaan televisi harus lebih kreatif dan banyak berinovasi.

“Nah dengan TV sekarang, kalau sudah masuk ke digital, mereka sudah HD. Rata-rata mereka cukup bagus, cukup cerah. Ini harus dimanfaatkan juga bagaimana mereka bersaing dengan layanan-layanan yang disampaikan melalui internet,” ujar Heru kepada Bisnis, Senin (18/3/2024).

Heru mengatakan perusahaan televisi seharusnya dapat memanfaatkan momen Ramadan ini untuk menghadirkan tayangan-tayangan yang tidak dapat diakses di platform video on demand. Hal inipun dinilai akan meningkatkan pamor dari televisi.

Namun, Heru mengakui secara umum belum ada program televisi yang berkesan dari Ramadan 2024. Perusahaan televisi cenderung mengulangi program yang sama seperti program Ramadan tahun sebelumnya. 

“Misalnya ‘Para Pencari Tuhan’ sudah episode ke berapa. Memang ada tayangan-tayangan baru, tetapi sepertinya cerita-cerita yang berkepanjangan itu seperti kehabisan ide. Harus ada penyegaran untuk acara-acara agar kedepannya masyarakat yang menonton TV makin banyak,” ujar Heru.

Oleh karena itu, Heru berharap agar setelah Ramadan akan ada program-program baru yang membuat tayangan TV menjadi lebih menarik. 

Lebih lanjut, Heru menyarankan agar perusahaan televisi tidak hanya berfokus pada hal-hal yang berbau politik. 

“Karena kita sudah political heavy, padahal kehidupan kita itu kan bukan politik, sehingga dunia terasa cepat, baru lima tahun terasa cepat ingin pemilihan lagi dan lagi,” ujar Heru.

Heru mengatakan ada banyak topik yang bisa dibahas di televisi, mulai dari tips kesehatan, infrastruktur di Indonesia, hingga peningkatan kualitas UMKM

“Ini banyak isu-isu yang selama ini kurang diperhatikan, seharusnya lebih diperhatikan agar acara kita tidak selalu diisi oleh politik,” ujar Heru. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper