Kemenkes Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Starlink Elon Musk, Satelit Satria?

Crysania Suhartanto
Senin, 7 Agustus 2023 | 11:17 WIB
Ilustrasi starlink
Ilustrasi starlink
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana menggunakan layanan satelit bumi rendah (low earth orbit/LEO) Starlink milik Elon Musk untuk menyalurkan internet cepat di sejumlah pelayanan kesehatan.

Permintaan telah disampaikan tidak lama setelah Satelit Satria milik Indonesia mengorbit pada 19 Juni 2023. 

Dikutip dari laman resmi Kemenkes, Senin (7/8/2023) Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin bertemu dengan Elon Musk di sela kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat pada Jumat (4/8/2023) untuk menjajaki peluang kerja sama dengan Starlink.

Budi mengungkapkan hal tersebut dilakukan untuk menyediakan akses internet di Puskesmas yang terletak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dari 10.000 lebih Puskesmas di seluruh Indonesia, masih ada sekitar 2.200 Puskesmas dan 11.100 Puskesmas Pembantu yang belum memiliki akses internet.

Dengan hadirnya layanan Starlink diharapkan akan tersedia akses internet yang merata, yang menciptakan layanan kesehatan yang setara di seluruh Indonesia, mengingat Starlink merupakan satelit LEO yang dapat menghadirkan internet dengan kekuatan yang stabil dan cepat. 

“Dengan adanya akses internet, konsultasi layanan kesehatan dapat dilakukan secara daring. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan lewat pelatihan jarak jauh juga bisa dilakukan,” jelas Budi dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, pada Senin (7/8/2023).

Sebagai informasi, jaringan satelit Starlink sudah digunakan untuk fasilitas kesehatan di Filipina, Rwanda, Mozambik, dan Nigeria. 

Hal ini tidak terlepas dari status Starlink saat ini selaku satelit pertama dan terbesar di dunia dengan konstelasi menggunakan orbit bumi yang rendah. Hal inipun dapat menghadirkan internet yang lebih cepat dan mendukung aktivitas secara daring. 

Di lain sisi, dikutip dari Bisnis, sebenarnya pemerintah Indonesia baru-baru ini meluncurkan satelit Satria 1 yang juga akan menyasar daerah-daerah 3T. 

Kendati demikian, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) mengakui kehadiran Satria-1 masih belum dapat memangkas kesenjangan digital secara optimal.

Bakti bahkan melakukan rasionalisasi dengan memangkas jumlah lokasi yang dilayani dari 150.000 titik menjadi 50.000 titik, untuk meningkatkan kecepatan per lokasi dari 1 Mbps menjadi 3-4 Mbps per lokasi layanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper