ChatGPT-4 Bakal Hilangkan Banyak Pekerjaan, Benarkah?

Asahi Asry Larasati
Kamis, 23 Maret 2023 | 20:38 WIB
Warga menunjukan aplikasi ChatGPT di Jakarta, Jumat (10/2/2023). Bisnis/Abdurachman
Warga menunjukan aplikasi ChatGPT di Jakarta, Jumat (10/2/2023). Bisnis/Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Chatbot ChatGPT kerap menjadi sorotan sebagai salah satu terobosan besar dalam perkembangan teknologi berbasis artificial intelligence (AI). Tidak sedikit juga yang menyebut perkembangan teknologi ini bisa merebut pekerjaan yang seharusnya dikerjakan manusia untuk mendapatkan penghasilan.

Pembuat ChatGPT, OpenAI, dengan cepat meluncurkan iterasi baru, seperti versi yang lebih kuat dari produk yang disebut GPT-4. Google telah memperkenalkan versinya sendiri, meskipun dengan beberapa kendala awal.

CEO OpenAI Sam Altman mengaku dirinya merasa 'sedikit takut' dengan kreasi ChatGPT yang dibuatnya. Pasalnya, di samping teknologi itu bisa membuat pekerjaan makin efisien, kecanggihan teknologi itu juga bisa 'menghilangkan' banyak pekerjaan.

"Alasan AI ini dikembangkan seharusnya untuk meningkatkan kehidupan kita dan keuntungannya, ini akan menjadi teknologi terbesar yang pernah dikembangkan umat manusia," katanya dilansir dari ABC News, Kamis (23/3/2023)

Pria berusia 37 tahun itu mengatakan, dia terus melakukan 'kontak rutin' dengan pejabat pemerintah dan mengatakan regulator dan masyarakat harus terlibat dengan peluncuran ChatGPT untuk menghindari efek yang buruk terhadap masa depan manusia.

Bahkan, Chief Executive Officer (CEO) Tesla Elon Musk ketar-ketir akan kecanggihan AI. Beberapa bulan lalu, Elon Musk mengatakan bahwa ingin memastikan teknologi ini beroperasi untuk kepentingan publik karena sebetulnya kecanggihan tersebut cukup berbahaya.

Dilansir dari Reuters pada Kamis (23/3/2023), startup OpenAI yang didukung Microsoft Corp memulai peluncuran GPT-4, model kecerdasan buatan yang menggantikan teknologi di balik ChatGPT. GPT-4 bersifat multimodal, yang berarti dapat menghasilkan konten dari permintaan gambar atau teks.

Ada sedikit perbedaan antara GPT-4 dan GPT-3.5. GPT-3.5 hanya menerima perintah teks, sedangkan versi terbaru dari model bahasa besar juga dapat menggunakan gambar sebagai input untuk mengenali objek dalam gambar dan menganalisisnya.

GPT-3.5 juga terbatas pada sekitar 3.000 kata, sedangkan GPT-4 dapat menghasilkan respons lebih dari 25.000 kata.

GPT-4 82 persen lebih kecil kemungkinannya untuk merespons permintaan konten yang dilarang daripada pendahulunya dan mendapat skor 40 persen lebih tinggi pada tes faktualitas tertentu.

Adapun, GPT-4 memungkinkan pengembang untuk menentukan gaya, nada, dan kata-kata yang digunakan oleh AI. Contoh, GPT-4 dapat mengasumsikan gaya percakapan Sokrates dan merespons pertanyaan dengan pertanyaan. Iterasi sebelumnya dari teknologi ini memiliki nada dan gaya yang tetap.

Pihak OpenAI mengungkapkan, nantinya pengguna ChatGPT akan memiliki opsi untuk mengubah nada dan gaya tanggapan chatbot. Kelebihan GPT-4 versi terbaru ini telah mengungguli pendahulunya dalam ujian bar Amerika Serikat (AS) dan graduate record examination.

Kelebihan dari GPT-4

GPT-4 juga dapat membantu individu menghitung pajak mereka, seperti yang ditunjukkan oleh Presiden OpenAI Greg Brockman. Demo tersebut menunjukkan GPT-4 dapat mengambil foto mock-up yang digambar tangan untuk situs web sederhana dan membuatnya menjadi nyata.

Be My Eyes, sebuah aplikasi yang melayani para tunanetra, akan menyediakan alat sukarelawan virtual yang didukung oleh GPT-4 pada aplikasinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper