Ini Alasan Startup Fintech Getol Akuisisi Bank

Khadijah Shahnaz Fitra
Kamis, 16 Maret 2023 | 12:48 WIB
Ilustrasi layanan jasa keuangan financial technology (fintech) crowdfunding./ Freepik.
Ilustrasi layanan jasa keuangan financial technology (fintech) crowdfunding./ Freepik.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - GDP Venture menjelaskan alasan beberapa startup financial technology atau fintech kerap melakukan akuisisi terhadap bank ataupun sebaliknya.

Investment Partner GDP Venture Anthony Liem menyebutkan hal ini dikarenakan startup fintech lebih bisa mengejar inklusi.

"Karena inklusi yang ditawarkan itu," ujar Anthony dalam acara Power Lunch, Rabu (15/3/2023).

Lebih lanjut, dia menjelaskan pangsa pasar untuk keuangan di Indonesia sangat besar, sehingga para pemain keuangan harus melakukan kerja sama. 

Pada tahun lalu pun, ada enam fintech yang melakukan akuisisi terhadap Bank. Pada April 2022, Investree dan Ajaib mengakuisisi Amar Bank dan Bank Bumi Arta.

Xendit dan Komunal juga melakukan akuisisi di Bank Sahabat Sampoerna dan BPR di Kediri. Pada Maret FinAccel mengakuisisi Bank Bisnis Internasional.

Bukan hanya fintech, startup sektor lain juga kerap mengakuisisi perusahaan yang sudah well estalibled. Seperti Zenius melakukan akuisisi terhadap Primagama.

Bukan hanya perusahaan biasa, startup juga banyak yang melakukan akuisisi startup lainnya seperti Sirclo akuisisi Warung Pintar dan Ruangguru terhadap Scooters dan Kalananti.

Adapun, industri startup fintech Indonesia diproyeksikan terus tumbuh hingga 2027 di tengah fenomena Silicon Valley Bank (SVB) yang runtuh.

Hal itu terlihat dari proyeksi nilai transaksi di lima segmen fintech dalam negeri. Dilansir dari DataIndonesia, Rabu (15/3/2023), Statista menyebutkan pembayaran digital menjadi segmen fintech yang memiliki nilai transaksi terbesar di Indonesia pada 2022, yakni US$70,38 miliar atau senilai Rp1,08 triliun.

Nilai tersebut diperkirakan terus tumbuh hingga US$122,3 miliar atau senilai Rp1,88 triliun pada 2027. Investasi digital menyusul di urutan kedua dengan nilai transaksi sebanyak US$23,65 miliar atau senilai Rp363 triliun pada 2022.

Dalam lima tahun setelahnya, investasi digital diproyeksi memiliki nilai transaksi sebanyak US$56,24 miliar atau Rp864 triliun Nilai transaksi bank digital di Indonesia mencapai US$18,37 miliar atau senilai Rp282 miliar pada 2022.

Angkanya juga diproyeksi tumbuh menjadi US$54,43 miliar pada 2027. Kemudian, nilai transaksi fintech pendanaan digital mencapai US$0,99 miliar pada 2022.

Nilainya diperkirakan naik menjadi US$1,44 miliar pada 2027. Nilai transaksi fintech yang bergerak di segmen aset digital diperkirakan sebesar US$0,38 miliar pada 2022. Pada 2027, nilai transaksinya diperkirakan tumbuh menjadi US$0,97 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper