Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korporasi Besar Mulai Lirik E-Grocery, Prospek Makin Cerah

Startup e-grocery berpotensi tumbuh lebih besar. Apalagi, pasar e-grocery juga sudah dimasuki oleh entitas besar seperti Grab dan Gojek.
Ahmad Thovan Sugandi
Ahmad Thovan Sugandi - Bisnis.com 27 Januari 2022  |  10:50 WIB
ilustrasi jual barang preloved lewat e-commerce - Freepik.com
ilustrasi jual barang preloved lewat e-commerce - Freepik.com

Bisnis.com, JAKARTA – Startup e-grocery diprediksi makin berkembang ke arah positif seiring berubahnya pola konsumsi masyarakat saat pandemi.

Peneliti ekonomi digital Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyebut startup e-grocery berpotensi tumbuh lebih besar. Apalagi, pasar e-grocery juga sudah dimasuki oleh entitas besar seperti Grab dan Gojek.

Mengutip data dari Google, Temasek, dan Bain, Huda menjelaskan permintaan untuk e-grocery meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan sebelum pandemi. Peningkatan tersebut yang akan jadi rebutan para entitas industri digital.

"Menurut saya, bisnis bahan makanan yang jadi rebutan utama bagi para startup ini, karena perputaran uangnya cukup cepat," ujarnya, Rabu (26/1/2022).

Huda mengatakan pola konsumsi masyarakat saat pandemi telah berubah karena konsumen lebih memilih berbelanja kebutuhan sehari-hari secara daring. Alasan itulah yang kemudian ditangkap oleh pemilik ritel nasional baik ritel minimarket hingga supermarket. 

Minimarket, seperti Alfamart misalkan, dia melanjutkan sudah mempunyai layanan pengantarannya sendiri. Begitu juga dengan supermarket yang bekerjasama dengan penyedia layanan pengantaran daring ataupun e-commerce.

Huda mengatakan saat ini pasar kebutuhan pokok dan sehari-hari masih dikuasai oleh toko kelontong dan warung. "Untuk itu para startup mencoba menggandeng para toko dan warung tradisional untuk masuk ke ekosistem digital," katanya.

Departemen Agrikultur AS “Retail Foods” untuk Indonesia dalam laporannya menyebut, penjualan kebutuhan sehari-hari di Indonesia pada 2020 mencapai US$97 miliar. Pasar atau warung tradisional menguasai 79 persen dan sisanya dikuasai oleh peritel modern. 

Sementara itu, kalangan modal ventura menyebut kunci kemenangan e-grocery adalah keterjangkauan harga dan kecepatan pengiriman produk.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan salah satu kriteria terpenting layanan e-grocery adalah ketepatan dan kecepatan waktu. Selain untuk menjamin kesegaran produk yang dibeli, juga terkait ekspektasi layanan yang cepat.

"Jadi persaingan akan mengacu ke kriteria tersebut sehingga pola supply chain dan otomasi layanan menjadi hal yg sangat penting untuk dipersiapkan para startup ini," ujarnya, Rabu (26/1/2022).

Menurut Edward, konsep rantai pasokan yang merambah ke berbagai daerah dan menyeluruh menjadi alasan banyak investor mengucurkan dananya ke startup e-grocery. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce StartUp ritel modern
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top