Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

JD.ID Pakai Strategi O2O, Jangkau 85 Persen Pasar Ritel Luring

JD.ID menggunakan strategi O2O untuk menjangkau pasar ritel luring yang masih dominan di Indonesia.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 22 September 2021  |  14:39 WIB
Aktivitas pekerja di Warehouse JD.ID Marunda, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Aktivitas pekerja di Warehouse JD.ID Marunda, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – JD.ID berupaya menjangkau pasar ritel Indonesia yang masih didominasi toko luring berbekal strategi online to offline (O2O).

Chief Financial Officer (CFO) JD.ID Sandy Permadi menjelaskan jika strategi O2O dilakukan tidak terbatas pada masa pandemi saat ini saja. Terlebih, potensi pasar ritel luring Indonesia dinilai masih menjadi mayoritas dibandingkan dengan daring.

“Saat ini baru sekitar 10-15 persen transaksi ritel dilakukan secara online. Berarti masih ada 85 persen offline retailers untuk didaringkan,” katanya pada Bisnis.com, Selasa (21/9/2021).

Sandy menjelaskan jika JD.ID nantinya akan berperan sebagai platform teknologi dan logistiknya. Perusahaan akan terus mengembangkan eksistensi toko luring dalam beberapa tahun ke depan.

O2O adalah strategi omni channels dengan mengoptimalkan multi channels yang ada. Strategi ini, lanjutnya, sangat kritikal dalam memfasilitasi kebutuhan konsumen di Indonesia yang menginginkan kenyamanan berbelanja daring.

Menurutnya, melalui strategi ini, JD.ID dapat memenuhi kebutuhan sebagian penggunanya yang memiliki preferensi untuk melihat langsung barang yang ingin dibeli, terutama untuk produk elektronik ataupun gawai.

Dari sisi efisiensi, kata dia, strategi O2O ini juga dapat memperkuat infrastruktur JD.ID. Caranya, toko fisik bisa dipergunakan juga sebagai drop point, experience center, konsultasi produk, hingga product return guna meningkatkan kenyamanan pengguna aplikasi tersebut.

Kendati demikian, Sandy menyebut strategi O2O membutuhkan nilai investasi yang tidak sedikit. Strategi komunikasi mengenai eksistensi toko luring juga merupakan tantangan tersendiri, terutama pada masa pandemi ini, karena aktivitas masyarakat untuk keluar dari rumah masih terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top