Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cip Langka, Penjualan Ponsel Pintar Terancam Terkontraksi

Salah satu musabab kelangkaan chipset adalah penerapan sanksi dagang oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap perusahaan asal China yaitu Semiconductor Manufacturing International Corp.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 05 Agustus 2021  |  06:53 WIB
Anak-anak bermain gadget - Istimewa
Anak-anak bermain gadget - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan ponsel pintar di Indonesia terancam terkontraksi lantaran problematika kelangkaan material semikonduktor, seperti cip masih belum terselesaikan. 

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan kenaikan harga ponsel sudah menjadi pilihan yang sulit dihindari dan dipastikan akan berpengaruh terhadap pasar.

“Pada kuartal III/2021 penjualan ponsel pintar bisa turun meskipun masih di bawah 10 persen, karena makin tinggi harga ponsel, maka yang dibeli akan disesuaikan dengan kantong pengguna,” katanya, Rabu (4/8/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan keadaan daya beli masyarakat juga kian merosot akibat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan pandemi Covid-19.

Dia memprediksi kenaikan untuk produk low end akan berkisar di antara Rp100—200.000. Kemudian, untuk ponsel di kelas menengah akan naik maksimal sebesar Rp500.000. Sebaliknya, bagi kelas atas potensi kenaikannya bisa mencapai Rp500.000—1 jutaan.

“Memang penjualan yang terkoreksi sedikit. Namun, masyarakat terpaksa harus memilih ponsel yang mungkin spek sedikit di bawah atau menambah kocek yang harus dikeluarkan,” katanya.

Untuk diketahui, salah satu musabab kelangkaan chipset adalah penerapan sanksi dagang oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap raksasa semikonduktor asal China yaitu Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC).

Trump memasukkan SMIC ke dalam daftar hitam investasi maupun perdagangan dengan Paman Sam.

Alhasil, produksi cip SMIC pun terbatas sehingga banyak negara yang menyiasati kebutuhan cip dengan beralih ke Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC).

Sayangnya, akibat ledakan permintaan, perusahaan tersebut pada akhirnya kewalahan memenuhi permintaan cip sehingga produk semikonduktor dunia mengalami kelangkaan.

Berdasarkan laporan perusahaan riset TrendForce, jika pendapatan 10 produsen cip teratas dijumlahkan, maka total pendapatan mereka pada kuartal I/2021 menembus US$22,75 miliar, naik 1 persen dari realisasi kuartal sebelumnya senilai US$22,56 miliar.

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) menguasai pasar chipset global dengan persentase 55 persen. Perusahaan mencatatkan pendapatan kuartal I/2021 senilai hampir US$13 miliar atau naik 2 persen dari kuartal sebelumnya.

Pemain lainnya, Pairwise Sequentially Markovian Coalescent (PSMC), mencatatkan pendapatan senilai US$388 miliar pada kuartal I/2021 atau naik 14 persen dari capaian kuartal sebelumnya senilai US$340 miliar.

Menurut proyeksi IDC, pasar semikonduktor global akan tumbuh 12,5 persen tahun ini yang didorong oleh permintaan untuk produksi ponsel pintar 5G.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smartphone chip
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top