Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Beda Satelit HTS Satria dan Satelit HTS Telkom

Satelit HTS Telkom memiliki jangkauan layanan yang lebih luas, sedangkan Satelit HTS Satria menggunakan frekuensi Ka-Band yang lebih tinggi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 09 Januari 2021  |  15:05 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyampaikan sambutan jelang penandatanganan kerja sama dimulainya konstruksi Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) antara PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) dengan perusahaan asal Perancis, Thales Alenia Space (TAS) di Jakarta, Kamis (3/9/2020). ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyampaikan sambutan jelang penandatanganan kerja sama dimulainya konstruksi Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) antara PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) dengan perusahaan asal Perancis, Thales Alenia Space (TAS) di Jakarta, Kamis (3/9/2020). ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Pada 2024, Indonesia akan memiliki dua satelit termutakhir dengan kapasistas data besar atau high throughput satellites (HTS) yaitu Satelit Multifungsi Satria dan Satelit HTS milik PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) yang masih dalam tahap pembahasan. Lantas apa kelebihan masing-masing satelit?

Anggota Dewan Profesi dan Asosiasi Mastel Kanaka Hidayat mengatakan bahwa masing-masing satelit memiliki keunggulan.

Satelit HTS Telkom yang akan menggunakan frekuensi C-Band dan Ku-Band memiliki jangkauan layanan yang lebih luas dengan kualitas yang andal karena berada di frekuensi rendah. Sebaliknya, Satelit HTS Satria menggunakan frekuensi Ka-Band yang lebih tinggi sehingga memiliki kapasitas HTS milik Telkom.    

Kanaka pun memperkirakan kapasitas C-Band HTS Telkom sekitar 7 Gbps, sedangkan untuk Ku-Band sekitar belasan – puluhan Gbps.

“Sedangkan Ka-band, seperti yang dilakukan oleh BAKTI Kominfo sekarang ini berhasil mencapai 150Gbps, itu pun tidak dengan mudah tekniknya,” kata Kanaka kepada Bisnis, Jumat (9/1).

Adapun mengenai belanja modal yang harus disiapkan Telkom, Kanaka memperkirakan nilainya sekitar US$200 juta. Nilai tersebut bisa bertambah atau berkurang tergantung dari kompleksitas sistem yang digunakan.

Mengenai harga satelit, laman Asia-Pasific Satellite Comunications Council (APSCC), sebuah asosiasi internasional yang mewakili semua sektor industri satelit dan / atau yang terkait dengan ruang angkasa, harga pengadaan satelit HTS bergantung pada kapasitas dan teknologi yang digunakan.

APSCC menyebutkan 1 satelit reguler dengan kapasitas 1–3 Gbps membutuhkan dana berkisar US$180 juta  –US$200 juta untuk pengadaan satelit.

Adapun untuk ‘keluarga’ HTS, APSCC menyatakan harganya untuk pembuatan satelit, peluncur dan asuransi, lebih mahal dibandingkan dengan satelit reguler.  

Untuk HTS Kelas I dengan kapasitas 10 -50 Gbps, APSCC menyebutkan membutuhkan dana berkisar US$200 juta –US$300 juta. HTS Kelas II dengan kapasitas 50 -150 Gbps membutuhkan dana sekitar US$350 juta – US$450 juta. HTS Kelas III dengan kapasitas 150Gbps – 350 Gbps membutuhkan dana berkisar US$500 juta – US$600 juta.

Kemudian untuk satelit kapasitas sangat tinggi atau very high throughput satellite (VHTS) dengan kapasitas 500 Gbps -1.000 Gbps membutuhkan dana berkisar US$500 juta – US$700 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi telkom satelit
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top