Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Teknologi 5G Bisa Jadi Alternatif Fixed Broadband

Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai teknologi 5G bisa menjadi pengganti layanan internet tetap karena penetrasinya masih rendah.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 09 November 2020  |  09:16 WIB
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman

Bisnis.com, JAKARTA – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai bahwa kehadiran 5G di Indonesia dapat menjadi alternatif dalam penyaluran layanan internet tetap.

Ketua Umum Mastel, Kristiono mengatakan hingga saat ini penetrasi layanan initernet tetap secara nasional baru 13 persen. Dengan kecepatan 1 Gbps dan latensi rendah 1ms – yang merupakan keunggulan 5G --, salah satu kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh 5G adalah pengganti layanan internet tetap.

“Kalau mau adopsi teknologi 5G di Indonesia dalam waktu dekat ini yang dapat diimplementasikan use case-nya adalah untuk fixed broadband karena penetrasinya masih rendah, maka [5G] sebagai alternatif selain menggunakan teknologi serat optik,” kata Kristiono kepada Bisnis.com, Minggu (9/11/2020).

Sekadar catatan, peluang implementasi 5G di Tanah Air makin cerah setelah Undang-undang Cipta Kerja memperbolehkan aktivitas berbagi spektrum frekuensi untuk teknologi baru, termasuk 5G.

UU Ciptaker mengenai Pos, Telekomunikasi dan Penyiaran pasal 33 ayat (6) menyebutkan bahwa operator seluler dapat melakukan kerja sama penggunaan spektrum frekuensi radio untuk penerapan teknologi baru. Sejauh ini, sebagian besar pemangku kepentingan sepakat bahwa 5G adalah salah satunya.

5G membutuhkan lebar pita frekuensi sekitar 60 MHz – 100 MHz. Jika masing-masing operator harus mengantongi spektrum frekuensi sebesar itu maka, jumlah spektrum yang tersedia tidak akan mencukupi. Berbagi spektrum frekuensi adalah solusi.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menjelaskan terdapat dua skema dalam hal berbagi spektrum frekuensi. Pertama, beberapa operator bisa bergabung dalam menggunakan rentang frekuensi tertentu, yang kemudian frekuensi itu dipakai bersama-sama.

Kedua, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Kemenkominfo menetapkan satu rentang frekuensi tertentu dan ada kebijakan frekuensi yang bisa dipakai bersama-sama oleh operator seluler.

Di luar kedua skema tersebut, ada juga skema neutral host, yaitu pemanfaatan infrastruktur telekomunikasi pasif dan aktif oleh dua atau lebih operator telekomunikasi untuk menyalurkan layanan 5G ke pelanggan.

Dengan skema ini, operator tidak perlu membangun dari awal infrastruktur telekomunikasi. Mereka hanya perlu menyewa dan bekerja sama dengan pihak ketiga. Adapun pihak ketiga, tidak boleh terlibat dalam menyediakan jasa untuk menghindari praktik monopoli.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi 5G
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top