Akses Internet Gratis : Sebuah Oasis di SMA Detusoko

Jaringan internet satelit di Desa Detusoko merupakan jaringan internet ke-480 yang dibangun menggunakan model Wi-Fi oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI).
Rahmad Fauzan | 09 April 2019 15:51 WIB
(Dari kiri) Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, Anggota Komisi I DPR RI Andreas Hugo Pareira, Menkominfo Rudiantara, Siswi SMAN Detusoko Sharyna Ayu Pale, Siswi SMAN Detusoko Theresia Kambe saat meninjau jaringan internet satelit di Desa Detusoko pada Senin (25/3/2019). - Bisnis/Rahmad Fauzan

Bisnis.com, JAKARTA — Dengan segala kemajuan teknologi yang terjadi dewasa ini, internet saat ini tidak lebih dari teknologi yang digunakan dari tangan ke tangan, memberi banyak kemudahan, serta jamak digunakan dalam keseharian. Namun, rupanya tidak semua lapisan masyarakat di Indonesia merasakan kondisi tersebut. Masih ada wilayah-wilayah Nusantara, tempat kehadiran internet disambut dengan sangat antusias karena dipandang sebagai ‘barang baru’. Salah satunya adalah di Desa Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Pada saat saya berkunjung ke wilayah tersebut, waktu seperti ditarik kembali ke masa-masa awal ketika internet baru masuk ke Indonesia. Bagi para pelajar di SMA Negeri Detusoko, Desa Detusoko, Kabupaten Ende, internet adalah hal yang benar-benar baru. Teknologi tersebut tak ubahnya oasis yang terbentang di depan mata mereka.

Dengan penuh semangat, Sharyna Ayu Pale, salah satu pelajar kelas XII di sekolah tersebut menyambut kedatangan teknologi pengoneksi dunia itu di sekolahnya.

“Jaringan internet memudahkan proses belajar mengajar. Bisa tanya Google kalau ada soal yang sulit,” ujarnya dalam satu sesi wawancara di sela-sela acara kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara ke Kota Ende, Nusa Tenggara Timur, belum lama ini.

Jaringan internet satelit di Desa Detusoko merupakan jaringan internet ke-480 yang dibangun menggunakan model Wi-Fi oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). Infrastruktur tersebut dibangun menggunakan dana universal service obligation (USO) yang dikumpulkan dari operator-operator seluler.

Setelah mengingat-ingat sejenak, Sharyna menceritakan tentang pengalaman belajarnya sebelum sekolah mereka yang terletak di dataran tinggi itu terjamah jaringan internet. Sharyna mengaku pada saat itu kegiatan belajar mengajar di sekolahnya terasa lebih sulit karena semua proses akademis harus dikerjakan secara manual.

“Sebelumnya hanya sebatas belajar dari buku. Sebelumnya, kami juga baca berita dari koran dan majalah. Kabupaten kerja sama dengan sekolah untuk mengirimkan hal-hal itu setiap akhir bulan,” tuturnya.

Namun, sejak masuknya jaringan internet di desanya, pelajar SMA Detusoko dapat menjalankan proses belajar mengajar secara lebih kreatif. Bahkan, menurut penuturan Sharyna, mereka kini dapat belajar tanpa harus menunggu kehadiran guru. Adapun, pelajar-pelajar tersebut juga diuntungkan dengan hadirnya berbagai macam aplikasi belajar di internet yang memungkinkan mereka untuk dapat belajar secara mandiri.

Beberapa perubahan signifikan lainnya juga terjadi dalam metode pembelajaran SMAN Detusoko. Misalnya, cara mengerjakan dan mengumpulkan tugas yang tidak lagi menggunakan pulpen dan kertas lalu mengumpulkannya di meja guru, melainkan dikerjakan di komputer dan dikumpulkan lewat surel.

Theresia Kambe, pelajar kelas XII lain di SMAN Detusoko, dengan penuh semangat juga menceritakan bagaimana mudahnya cara mereka mengerjakan dan mengumpulkan tugas sejak sekolah mereka dijamah internet. Lebih dari itu, cara mereka mendapatkan nilai di sekolah juga makin bertambah sejak masuknya jaringan internet. Para pelajar di SMA Negeri Detusoko, ujar Theresia, kini juga mengerjakan tugas dalam format video yang setelahnya akan diunggah ke situs web.

“[Tugas itu] kami upload ke Facebook. Namun, ada juga yang mungkin sudah di-upload ke YouTube oleh guru,” kata Theresia.

Menurut cerita kedua pelajar tersebut, jaringan internet mulai bisa digunakan di sekolah mereka sekitar Januari 2019. Theresia mengaku sempat tertawa saat mendengar sekolahnya sudah terhubung dengan internet.

“Namun, hal yang lebih penting dari semua itu adalah kisi-kisi soal ujian,” kelakarnya.

Bagaimanapun, menggunakan internet tentu saja bukan persoalan pakai dan selesai. Kehadiran internet tentu juga harus diimbangi dengan bimbingan dari berbagai pihak mengingat banyaknya hal negatif yang bertebaran di jagat maya.

Sejak SMAN Detusoko dilengkapi dengan jaringan internet, tidak hanya untuk mengerjakan tugas-tugas, beraktivitas di media sosial juga menjadi salah satu kegiatan populer bagi pelajar SMAN Detusoko selama berseluncur di dunia internet.

Lantas, mengapa harus ada bimbingan serius? Sebab, selama Maret 2019 saja, sebanyak 453 hoaks, kabar bohong, dan berita palsu berhasil diidentifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Total, jumlah hoaks yang ditemukenali oleh Kemenkominfo menjadi 1.224 hoaks pada periode Agustus 2018 sampai dengan Maret 2019. Padahal, fasilitas internet yang disediakan di Detusoko juga gunakan untuk berbagai macam kegiatan di platform media sosial yang notabene menjadi tempat hoaks-hoaks berkeliaran.

Berhadapan dengan hal-hal seperti itu, apakah pelajar-pelajar yang minim pengalaman di dunia internet mampu menahan arus hoaks yang berpotensi merusak kehidupan berbangsa dan bernegara? Ketika ditanya apakah sudah ada pelatihan terkait dengan penggunaan media sosial, Sharyna yang beberapa waktu lalu memenangkan lomba vlog mengaku, “Belum.”

Dengan demikian, menjadi penting bagi para pemangku kepentingan untuk tidak sekadar mempermudah akses pendidikan melalui ketersediaan jaringan internet di seluruh pelosok Tanah Air, tetapi juga menyuluh peserta didik untuk menggunakan teknologi secara tepat guna untuk kepentingan pembangunan kualitas SDM di Tanah Air.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
internet

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top