Susul Oppo, Giliran Vivo Tandatangani Kesepakatan Paten 5G dengan Nokia

Leo Dwi Jatmiko
Senin, 5 Februari 2024 | 17:26 WIB
Tampak depan Nokia Oyj Executive Center di Espoo, Finlandia, Senin (2/3/2020)./Bloomberg-Roni Rekomaarn
Tampak depan Nokia Oyj Executive Center di Espoo, Finlandia, Senin (2/3/2020)./Bloomberg-Roni Rekomaarn
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen peralatan telekomunikasi asal Finlandia, Nokia, menandatangani perjanjian lisensi paten 5G multi-tahun dengan vendor ponsel pintar China, Vivo. Kesepakatan yang terjalin keduanya akan mulai berlaku pada kuartal I/2024.

“Perjanjian tersebut menyelesaikan semua litigasi paten yang tertunda antara para pihak, di semua yurisdiksi. Ketentuan perjanjian tetap dirahasiakan sebagaimana disepakati antara para pihak,” tulis Nokia dalam sebuah pernyataan dikutip dari CNA, Senin (5/2/2024). 

Sebelumnya, Nokia terlibat dalam perselisihan hukum dengan Vivo dan Oppo terkait pembayaran paten. Permasalahan tersebut membuat keduanya kesuiltan dalam melakukan penjualan ke pasar.

Permasalahan dengan Oppo telah selesai pada Januari 2024. Sementara Vivo baru selesai.

Laporan Statista menyebut pada Januari 2024, pangsa pasar Vivo di Indonesia mencapai 13,7%. Perusahaan tersebut kalah dari produsen smartphone asal China lainnya yaitu Oppo yang memiliki pangsa pasar 17,99%. 

Kemudian di urutan kedua ada Samsung dengan 17,44% dan Xiaomi dengan 15,2%

CNA melanjutkan dalam laporannya bahwa perjanjian ini merupakan perjanjian lisensi ponsel pintar terbesar ke-6 yang dibuat Nokia dalam 13 bulan terakhir dan merupakan perjanjian lanjutan dengan Apple, Samsung, OPPO, Honor, dan Huawei.

“Nokia kini hampir menyelesaikan siklus pembaruan lisensi ponsel pintarnya,” kata perusahaan itu.

Kelompok tersebut bulan lalu mengatakan mereka memperkirakan Nokia Technologies, bisnis lisensi kekayaan intelektualnya, akan menghasilkan setidaknya US$1,51 miliar laba operasional pada 2024.

Sementara itu, The Economic Times (ET) beberapa waktu lalu melaporkan Nokia mencatat net penjualan turun 33% dari periode sebelumnya ke 379 juta euro pada tiga bulan terakhir 2023. Sementara itu, Ericsson tercatat lebih anjlok hingga 40% pada periode yang sama. 

CEO Nokia Pekka Lundmark menilai penurunan penjualan di India disebabkan oleh normalisasi investasi pada perusahaan telekomunikasi di negara tersebut.

Di sisi lain, hubungan Nokia dengan HMD Global dikabarkan sedang kurang baik. HMD menyebut tahun 2024 sebagai "tahun Perangkat Seluler Manusia" (melalui Android Police). HMD menyatakan akan terus menciptakan "ponsel yang tangguh, menyenangkan, aman, cepat, dan terjangkau". 

Hal ini membuat orang percaya bahwa HMD akan memindahkan Nokia menjadi sesuatu yang kurang diprioritaskan. 

CMO Nokia Phones dan HMD Lars Silberbauer menyatakan dalam sebuah postingan di LinkedIn meski HMD dikenal sebagai pembuat ponsel Nokia, visi perusahaan melampaui warisan ini.

Dia menambahkan HMD  sedang bertransisi dari pemegang lisensi menjadi perusahaan multi-merek dengan lini produk merek HMD yang berbeda, dilengkapi dengan beberapa kemitraan lisensi. 

“Dan kolaborasi merek signifikan yang ingin kami umumkan di MWC akhir bulan ini,” tulisnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper