Curhat Bos Bakti soal Tekor Biaya Pembangunan BTS di Papua

Crysania Suhartanto
Jumat, 29 Desember 2023 | 09:15 WIB
BTS 4G Bakti aktif di Desa Asotapo, Papua Pegunungan. Warga sekitar memanfaatkan internet untuk belajar dan mengakses berita/BISNIS-Leo Dwi Jatmiko.
BTS 4G Bakti aktif di Desa Asotapo, Papua Pegunungan. Warga sekitar memanfaatkan internet untuk belajar dan mengakses berita/BISNIS-Leo Dwi Jatmiko.
Bagikan

Bisnis.com, MELONGUANE - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengakui dana pembangunan base transceiver station (BTS) atau stasiun pemancar di Papua sudah melebihi anggaran.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo Fadhilah Mathar mengatakan, hal tersebut disebabkan banyak BTS yang sebenarnya sudah dibangun setengah jadi, tetapi harus diganti karena perusakan atau vandalisme oleh kelompok antipemerintah RI.

"Sekarang pun itu sudah bengkak karena mereka sudah dibangun setengah jadi, kemudian karena ada kasus-kasus keamanan atau vandalisme, itu terpaksa harus ganti lagi," ujar Fadhilah atau Indah kepada wartawan, Kamis (28/12/2023).

Indah mengungkapkan, setiap membangun di daerah pedalaman pasti akan memakan anggaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya.

Indah mencontohkan dengan kasus Palapa Ring Timur yang berlokasi di Papua. Menurutnya, saat pertama kali direncanakan, Palapa Ring Timur diperkirakan hanya memakan anggaran sekitar Rp2-2,2 miliar. Namun, dalam pelaksanaannya, anggaran bisa membengkak hingga Rp10 miliar.

"Karena perbaikannya harus menggunakan helikopter, itu sangat besar biayanya," ujar Indah. 

Deputi Project Directur PT Surya Energi Indotama (SEI), salah satu kontraktor pembangunan BTS di Papua, Agus Purnama mengatakan bahwa ada satu unit BTS di Papua yangdirobohkan oleh pihak yang berseberangan dengan pemerintah RI. 

Agus bercerita, saat itu perusahaannya menerima laporan terkait sinyal internet yang terputus di Distrik Yotadi, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah.

Oleh karena itu, saat ingin pulang, Agus dan tim menggunakan helikopter melihat site yang seharusnya menjadi tempat menara BTS. Agus mengaku mereka juga tidak berani untuk memantau BTS tersebut secara langsung karena lokasinya yang berada di zona merah.

Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika dilihat menara BTS yang sudah roboh, berikut dengan banyaknya alat-alat hilang karena dicuri. Padahal, perangkat sudah terpasang dan siap untuk on air.

"Itu kan pakai guide mask. Selingnya itu yang ditarik. [Barang-barang] itu sudah hilang," ujar Agus kepada wartawan, Kamis (28/12/2023).

Agus pun memperkirakan kerugiannya bisa mencapai Rp1,5 miliar, jika mengikuti harga kontrak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper