Debat Cawapres 2024: Peluang dan Hambatan Kredit Startup Gibran

Leo Dwi Jatmiko
Jumat, 22 Desember 2023 | 09:53 WIB
Ilustrasi Startup. Bisnis/Arief Hermawan P
Ilustrasi Startup. Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Cawapres Gibran Rakabuming sempat membocorkan janji yang akan dilakukan bersama Prabowo jika terpilih memimpin Indonesia dalam lima tahun ke depan. Adapun salah satunya adalah kredit startup milenial. 

Nantinya program ini akan menyasar pelaku bisnis milenial. Utamanya untuk kelompok usaha berbasis inovasi dan teknologi. 

"Nanti akan kami tambahkan lagi. Kredit startup milenial," kata Gibran setelah menyelesaikan pendaftaran di KPU Jakarta, Rabu (25/10/2023).

Namun, dalam perkembangannya wacana ini mendapat masukan dan kritikan. Beberapa pihak menilai rencana ini bakal menghadapi sejumlah hambatan. 

Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies Nailul Huda mengatakan perbankan yang mengajukan kredit, termasuk ke startup, membutuhkan pengembalian dana jangka pendek. 

“Bagi perbankan, yang terpenting adalah bagaimana debtors ini membayar hutang bagaimanapun caranya, tidak peduli debtors lagi untung atau rugi,” ujar Huda kepada Bisnis.

Padahal, kata Huda, perusahaan rintisan di masa awal berdirinya pasti merugi. Setelah berjalan beberapa tahun, startup baru akan menemukan model bisnis yang sesuai dan mendapatkan keuntungan.

“Makanya untuk memberikan utang ke startup ya sangat riskan karena dengan mereka masih rugi, apakah bisa membayar hutangnya dalam jangka waktu tertentu,” ujar Huda. 

Oleh karena itu, menurutnya, model bisnis yang cocok untuk mendanai sebuah startup adalah modal ventura atau perusahaan (private placement). 

Huda mengatakan hal ini dikarenakan model bisnis tersebut tidak membutuhkan pengembalian dana jangka pendek, layaknya bank. 

Adapun, kata Huda, perusahaan tersebut cenderung mendapatkan untung dengan menjual saham di kemudian hari. Salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan dari saham dalam jumlah besar adalah melakukan listing di bursa atau (IPO).

Selain itu, modal ventura juga dapat mendapatkan keuntungan dari nilai valuasi dalam jangka panjang dari perusahaan rintisan. 

Kendati demikian, jika memang kredit startup ini ingin dilanjutkan, Huda menyarankan agar bank pemberi kredit melakukan peninjauan perusahaan dengan jeli dan hati-hati. 

“Maka assessment terhadap startup-nya akan menjadi langkah penting, terutama dalam melihat kemampuan membayar hutangnya,” ujar Huda. 

Bendahara Amvesindo Edward Ismawan Chamdani mengatakan dalam menyalurkan pendanaan, termasuk kredit, ke startup perlu dilihat dari pola strukturnya. Kredit tersebut termasuk dalam pola partisipasi di saham, pinjaman produktif, pinjaman ventura (venture debt) atau lainnya. 

Pinjaman ventura adalah jenis pembiayaan utang yang diberikan kepada perusahaan yang didukung ventura oleh bank khusus atau pemberi pinjaman non-bank untuk mendanai modal kerja atau pengeluaran modal, seperti pembelian peralatan.

“Karena rata-rata [startup] belum memiliki kolateral dan perputaran arus kas (cash flow) yang stabil maka risiko tentu menjadi lebih besar dibandingkan perusahaan yang sudah established,” kata Edward.

Edward menjelaskan apabila sifat dari pendanaan adalah untuk meningkatkan ekosistem agar menjadi lebih baik, maka pola investasi berbasis komersial perlu dikombinasikan dengan dana yang sifatnya berbeda, atau non-profit sebagai agenda pemerintah. 

Di Singapura dan Malaysia, lanjutnya, sudah menerapkan program ini sejak 10-15 tahun yang lalu. Indonesia tertinggal.

“Ada yang berbentuk "matching funds" di level portfolio companies dan ada juga ke para modal ventura. Sehingga track record maupun proses due diligence bisa dilakukan oleh tim yang berpengalaman,” kata Edward. 

Merujuk pada laporan DataIndonesia.id yang mengutip Layoffs.fyi, secara global, jumlah karyawan startup di dunia yang terkena PHK sebanyak 204.665 orang sejak 1 Januari - 3 Mei 2023.

Adapun, sebanyak 19.026 karyawan menjadi korban PHK dari 81 startup di dunia pada kuartal II/2023. Jumlah itu turun 89,8% dibandingkan pada kuartal sebelumnya yang sebanyak 185.639 karyawan di 649 startup.

Di Indonesia, sejumlah startup tercatat juga telah melakukan PHK. Belum lama, Rumah.com memutuskan untuk menghentikan layanan mereka di Indonesia dan merumahkan 61 karyawannya. 

Sebelum, PropertyGuru nama-nama perusahaan rintisan besar seperti GoTo, Bibit, Xendit, Shopee Indonesia, LinkAja, Sayurbox, hingga Ajaib juga dikabarkan telah melakukan PHK. (Afaani Fajrianti)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper