Pasar Satelit LEO Diprediksi Tembus Rp4.463 Triliun pada 2029, Gantikan GEO?

Crysania Suhartanto
Minggu, 12 November 2023 | 17:42 WIB
Ilustrasi satelit LEO Starlink milik SpaceX/dok. Starlink
Ilustrasi satelit LEO Starlink milik SpaceX/dok. Starlink
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pangsa pasar dari satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO) selama periode 2023-2029 diprediksi mencapai US$284,39 miliar atau sekitar Rp4.463 triliun dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) hingga 10,35%. 

Menurut laporan dari Mordor Intelligence, hal ini dikarenakan satelit LEO sudah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari sejumlah industri, mulai dari telekomunikasi, observasi Bumi, navigasi, dan lain-lain.

Selain itu, satelit LEO juga sudah kerap diandalkan untuk internet, layanan komunikasi, dan transfer data. 

Hal ini tak terlepas dari jarak antara satelit dengan Bumi yang tidak terlalu jauh, sehingga latensi yang dihasilkan pun menjadi lebih sedikit. 

Lebih lanjut, satelit LEO juga menjadi favorit para pengembang karena bahan bakar yang lebih efisien serta masa pakai yang lebih lama. 

“Sistem proporsi memainkan peran penting dalam menentukan kinerja, efisiensi, dan kemampuan operasional satelit-satelit tersebut,” ujar laporan tersebut, dikutip Minggu (12/11/2023). 

Sebagai informasi, satelit LEO merupakan satelit yang mengorbit di sekitar 160 hingga 2000 km di atas bumi. Adapun satelit akan membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam untuk mengorbit satu putaran penuh.

Makin berat satelitnya, maka makin banyak bahan bakar dan energi yang dibutuhkan untuk meluncurkannya ke luar angkasa. 

Saat ini sudah ada sekitar 65 satelit yang diluncurkan dengan berat lebih dari 1000 kg, 250 satelit dengan berat sekitar 500-1000 kg, dan lebih dari 4000 satelit dengan berat kurang dari 500 kg.

Laporan tersebut memperkirakan satelit LEO akan tumbuh secara signifikan di tahun-tahun yang akan datang. 

Pada periode 2017-2022 saja, sudah ada lebih dari 4100 satelit yang diproduksi dan diluncurkan oleh berbagai operator. 

Diketahui, produsen yang paling banyak meluncurkan satelit berasal dari Amerika Utara. 

Wilayah ini menyumbang 72% dari total satelit yang diproduksi dan diluncurkan ke LEO. Kemudian disusul dengan Eropa yang hanya sebesar 12% dan Asia-Pasifik yang sebesar 9%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper