Studi: TikTok Dipakai Kelompok Jomblo Garis Keras Incel Tebar Ujaran Kebencian

Alifian Asmaaysi
Minggu, 15 Oktober 2023 | 19:53 WIB
Iklan tiktok dalam layar yang berada di stasiun metro Washington DC, Amerika Serikat pada Kamis (30/3/2023). - Bloomberg/Andrew Harrer
Iklan tiktok dalam layar yang berada di stasiun metro Washington DC, Amerika Serikat pada Kamis (30/3/2023). - Bloomberg/Andrew Harrer
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Platform media sosial Tik Tok diyakini menjadi wadah utama bagi para kaum incel menyebarkan ujaran kebencian khususnya bagi para kaum wanita.

Kaum incel sendiri memilik makna yang beragam, yang sebagian besar mengarah pada kondisi pria yang kesulitan mendapatkan pasangan, meski sangat mengingingkannya. Mereka merasa sangat eksklusif dan tidak cocok dengan perempuan era saat ini.  

Melansir laman Independent.co.uk, Minggu (15/10/2023) studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Portsmouth menemukan bahwa kaum incel yang “menonjol” di situs berbagi video Tik Tok kerap menyebarkan video yang memojokkan kaum perempuan.

Studi tersebut menjelaskan, merebaknya sejumlah kelompok incel di Tik Tok didorong oleh kebijakan moderasi  yang dinilai belum kebal terhadap pengaruh incel.

Di mana, studi ini juga menyebutkan bahwa ideologi incel disebarkan melalui berbagai gaya termasuk melalui penggunaan daya tarik pseudo-ilmiah.

“Studi kami menunjukkan bahwa ideologi incel juga hadir, dipopulerkan, dan berkembang pesat di TikTok.” tuturnya.

Adapun, ujaran kebencian yang kerap disebarkan kaum incel untuk para wanita umumnya disajikan menggunakan grafik, survei, dan informasi palsu dan disalahtafsirkan yang sering kali didasarkan pada psikologi evolusioner dan determinisme biologis untuk mengungkap sifat sebenarnya dari perempuan. 

Metode lainnya mencakup daya tarik emosional yang menggunakan media internet viral yang digunakan kembali, termasuk klip TV dan meme, yang menggambarkan penghinaan dan penderitaan laki-laki yang tidak menarik di tangan perempuan untuk menggambarkan laki-laki sebagai korban dan membangkitkan empati.

Adapun, studi tersebut menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan cukup lembut dan implisit untuk menghindari moderasi konten, namun cukup berbahaya untuk meluruskan keyakinan yang penuh kebencian seraya dikaitkan dengan seksisme yang lebih luas dan misogini struktural. 

Masih mengacu pada studi yang sama, Profesor kejahatan dunia maya dan gender di Universitas Portsmouth, Lisa Sugiura mengatakan bahwa pendekatan yang diambil kaum incel dilakukan secara halus tersebut bertujuan untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, termasuk mereka yang mungkin tidak terbiasa dengan seluk-beluk ideologi incel. 

“Hal-hal tersebut menghadirkan tantangan bagi pembuat kebijakan dan bahaya nyata bagi perempuan. Seiring dengan semakin populernya TikTok, masih banyak yang harus dilakukan untuk memahami pertumbuhan aktivitas incel di platform ini.” tulis dalam laporan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Alifian Asmaaysi
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper