Schneider Target Kurangi C02 10 GT per Tahun, Andalkan EcoStruxure

Crysania Suhartanto
Senin, 24 Juli 2023 | 21:14 WIB
Business Vice President Schneider Electric Yana Achmad Haikal menjelaskan mengenai EcoStruxure di Jakarta, Senin (24/7/2023).
Business Vice President Schneider Electric Yana Achmad Haikal menjelaskan mengenai EcoStruxure di Jakarta, Senin (24/7/2023).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Schneider Electric Indonesia berusaha mengurangi sampah karbon dioksida hingga 10 giga ton per tahun. Salah satu caranya dengan mendorong solusi lengkap EcoStruxure. 

Business Vice President Schneider Electric Yana Achmad Haikal menjelaskan bahwa EcoStruxure adalah sebuah solusi teknologi informasi yang terdiri dari connected products (hardware), edge control (software untuk monitor), dan apps, analytics, & services untuk menganalisa data).

Solusi ini memiliki UPC, panel, kabel yang dibuat dengan material yang lebih tahan lama, sehingga waktu pemakaiannya juga akan lebih lama. Selain itu, ada perangkat lunak dari Schneider yang dapat memonitor penggunaan listrik atau pun daya dengan lebih efisien, sehingga dapat lebih hemat energi.

Dengan solusi lengkap tersebut perseroan berharap dapat mengurangi sampah karbon dioksida hingga 10 giga ton per tahun. Adapun per semester I/2023 ini perusahaan telah berhasil memangkas sampah CO2 hingga 4 giga ton per tahun. 

“Setiap bagian layanan produk ataupun jasa dari EcoStruxure ini mengambil andil dalam pengurangan karbonnya tersendiri,” kata Yana saat Media Briefing, Senin (24/7/2023).  

Tempat server bagian dari solusi EcoStruxure/Bisnis.com-Crysania Suhartanto
Tempat server bagian dari solusi EcoStruxure/Bisnis.com-Crysania Suhartanto


Yana menuturkan meski solusi tersebut menghadirkan efisiensi, namun produsen data center yang mengadopsi sistem ramah lingkungan itu masih sedikit. 

Mengutip data dari Forrester, sebanyak 83 persen operator data center sudah menyadari penggunaan sistem keberlanjutan dapat membuat bisnis mereka menjadi lebih menarik. 

Sayangnya, mereka tidak dapat memanfaatkan teknologi tersebut karena terkendala biaya. Diketahui, 70 persen produsen pangkalan data tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membuat program keberlanjutan. 

“Sebagaimana kita tahu, (program) keberlanjutan membutuhkan investasi yang cukup tinggi. Dan ini memang sesuatu yang harus kita hadapi, dengan adanya investasi yang tinggi. Namun, nanti di akhirnya beberapa tahun ke depan, dananya akan kembali,” ujar Yana. 

Dia mengatakan beberapa laporan menyebutkan bahwa suhu bumi akan terus meningkat mencapai 4-6 derajat celcius. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan teknologi untuk berlomba menekan pertumbuhan menjadi hanya 1,5 derajat pada 2030.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper