Dampak Bangkrutnya Silicon Valley Bank Kecil ke Startup RI, Kok Bisa?

Aziz Rahardyan
Selasa, 14 Maret 2023 | 10:03 WIB
Logo Silicon Valley Bank (SVB). Source: Bloomberg.
Logo Silicon Valley Bank (SVB). Source: Bloomberg.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) melihat lanskap pendanaan perusahaan rintisan (startup) di Tanah Air tak akan terpengaruh signifikan oleh dampak kasus kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat (AS). 
Ketua Umum Amvesindo Eddi Danusaputro menjelaskan bahwa alasannya terutama karena sampai saat ini ekosistem startup maupun modal ventura [VC] di Indonesia relatif jauh dengan jaringan Silicon Valley. 
"Indikasi awal, relatif sedikit VC di Indonesia yang berbisnis dengan SVB, atau pun berinvestasi ke startup di AS. Memang, ada sedikit startup di Indonesia yang terima investasi dari VC berbasis di Silicon Valley, tapi kami masih mencari data konkret dan apakah mereka berhubungan langsung dengan SVB," jelasnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (13/3/2023) malam. 
Sebagai gambaran, SVB merupakan bank yang dikenal loyal menjembatani transaksi pendanaan untuk perusahaan sektor teknologi, terutama ekosistem startup jaringan Silicon Valley secara global.
Pasalnya, bagi para pelaku startup global, jejaring SVB dianggap sebagai salah satu pintu gerbang untuk dilirik investor kakap asal AS, atau dalam rangka memuluskan jalan menggalang dana lewat IPO di sana. 
Dia menilai goyahnya SVB merupakan dampak kompilasi beberapa aspek. Mulai dari fenomena tech winter, di mana pendanaan sektor teknologi tengah seret, sehingga memaksa banyak startup mengambil simpanannya di bank, dibarengi isu kepercayaan terhadap kapasitas SVB terkait ketersediaan dana, terutama setelah SVB melego banyak aset investasinya berupa surat utang negara dengan harga murah, sebab terpengaruh tren terus melonjaknya suku bunga acuan.
Adapun, dalam lanskap perkembangan startup di Tanah Air, Eddi melihat bahwa pendanaan mayoritas masih diramaikan oleh angel investor dan VC lokal, terutama VC milik korporasi jumbo.
Sebagian lainnya, dari VC mancanegara jaringan Asia-Pasifik, terutama untuk startup di putaran pendaaan tahap awal, di mana jumlahnya banyak, tapi nilainya tak begitu besar.
"Secara umum, saat ini [pendanaan dari] foreign investors ke startup RI mungkin berkurang jumlahnya, karena terdampak tren kenaikan suku bunga global. Tapi apetite masih ada. Semoga nilai pendanaan tumbuh, tapi mungkin number of deals berkurang, alias pada setiap transaksi jadi lebih besar ticket size pendanaannya," tambahnya.
Sementara itu, terkait potensi kasus serupa SVB terjadi pada lanskap perkembangan startup di Indonesia, Eddi melihat kemungkinannya kecil. Alasannya, belum ada bank lokal seperti SVB yang terlalu fokus menjembatani layanan keuangan para perusahaan sektor teknologi, terutama startup.
"Bank dengan model bisnis seperti SVB di Indonesia belum ada, dan juga di ranah regulasinya. Sehingga tidak ada relevansinya dengan ekosistem di Indonesia seperti yang terjadi di SVB," tutupnya.
Sekadar informasi, mengutip data tim riset DailySocial, tren pendanaan startup di Indonesia sepanjang 2022 mencapai US$4,2 miliar dari 260 transaksi terpublikasi (disclosed funding). Nilai ini tercatat turun dari tren pendanaan startup RI sepanjang 2021, di mana nilainya menembus US$6,9 miliar dari 127 transaksi terpublikasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper