Jelajah Sinyal: Kaum Muda Jadi Tumpuan Digitalisasi Ekonomi Kerakyaatan

Albertus Agung Moa Padji dan Oktaviano Donald
Kamis, 10 November 2022 | 20:24 WIB
Hendrikus Pedro, pengajar di Universitas Nusa Nipa (Unipa) yang aktif mendampingi komunitas Mbula So di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati.
Hendrikus Pedro, pengajar di Universitas Nusa Nipa (Unipa) yang aktif mendampingi komunitas Mbula So di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati.
Bagikan

Bisnis.com, LARANTUKA - Kaum muda memegang peranan penting dalam mengoptimalkan pemanfaatan layanan internet yang didukung pembangunan infrastruktur secara masif dalam beberapa tahun terakhir di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Hal itu menjadi salah satu temuan yang didapatkan tim Jelajah Sinyal 2022 dari Bisnis Indonesia saat memotret progres penggelaran infrastruktur telekomunikasi dan manfaatnya bagi masyarakat di Pulau Flores pada 31 Oktober - 10 November 2022.

Di Kabupaten Sikka, misalnya, tim Jelajah Sinyal menjumpai Hendrikus Pedro, salah seorang pengajar di Universitas Nusa Nipa (Unipa) yang aktif mendampingi komunitas Mbola So, komunitas tenun ikat yang didirikan oleh sejumlah warga pengungsi dari Pulau Palu’e, Sikka, NTT, akibat letusan Gunung Rokatenda.

Komunitas yang anggotanya didominasi kaum wanita yang terampil dalam tenun ikat dengan motif khas masyarakat Palu’e ini menggunakan pewarna alami sebagai bahan bakunya. Sayangnya, kain hasil tenun ikat itu harus rela dijual dengan harga rendah di pasar lantaran kebutuhan mendesak.

Berawal dari kebutuhan penelitian terkait ekonomi kerakyatan pada 2019, Pedro hingga saat ini aktif mengadvokasi dan membimbing pengembangan organisasi dan pemasaran kain tenun ikat komunitas Mbola So. Tujuannya, para penenun bisa mendapatkan harga yang layak.

“Ketika pertama kali melihat mereka menggunakan pewarna alami, saya langsung merasa bahwa ini potensi yang kuat sekali… Sangat luar biasa [kain dengan pewarna alami], tapi harganya murah. Mereka butuh untuk kebutuhan pokok,” ungkapnya kepada tim Jelajah Sinyal saat ditemui di permukiman komunitas Mbola So, di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022).

Bersama dengan Petrus Jefridus Pio atau Jefri yang merupakan warga lokal, Pedro membantu kaum wanita di komunitas Mbola So untuk menjajakan kain tenun dengan harga yang pantas, termasuk melalui sosial media dan platform dalam jaringan atau online. Oleh karena itu, Pedro secara umum mendorong tiga hal dalam upayanya tersebut yakni peningkatan kualitas, pemasaran dan organisasi yang kuat. 

Menurutnya, pemasaran menjadi tantangan terberat yang dihadapi komunitas Mbola So. Pasalnya, pemasaran kain tenun seringkali dihadapkan pada sejumlah ‘oknum’ perantara yang berupaya menekan harga semurah mungkin.

“Artinya mereka harus jadi tuan atas produk mereka sendiri,” tegas Pedro.

Tenun Palue
Tenun Palue

Ernie, salah seorang penenun menunjukkan kain tenun bermotif khas masyarakat Palu'e di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati.

Upaya Pedro dan Jefri pun mulai menunjukkan hasil. Peningkatan kualitas produk dan penguatan organisasi menjadi dasar bagi komunitas Mbola So untuk mendorong pemasaran dengan harga layak dengan ditopang layanan digital.

“Sekarang dengan cara online, harga jualnya lebih kuat. Kami ingin terus meningkatkan lagi agar para wanita di komunitas Mbola So dan keluarganya lebih sejahtera,” ujarnya.

Di Larantuka, Flores Timur, NTT, tim Jelajah Sinyal 2022 menemui Francis Lein, anak muda yang aktif memberdayakan petani kopi di sejumlah desa di Pulau Flores. Berawal dari usaha kedai kopi 'Lopo Kopi' pada 2016, pria yang akrab disapa Ancis ini kemudian memberanikan diri untuk merambah usaha pengolahan kopi pada 2018 dengan menggandeng para petani.

“Pada 2018, saya mulai belajar lebih jauh tentang biji kopi mulai dari pasca-panen dan pengolahan kopi,” jelasnya kepada tim Jelajah Sinyal, Selasa (8/11/2022).

Ancis berkolaborasi dengan petani dari Desa Were di Ngada, Desa Saga di Ende dan Desa Leworok di Flores Timur. Para petani itu didampinginya sehingga mampu menghasilkan biji kopi berkualitas terbaik untuk dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Sejak 2019, Ancis memasarkan biji kopi berkualitas dari daratan Flores ke berbagai kota, mulai dari Kupang, Jakarta, Surabaya, Banjarmasin, hingga Palangkaraya. Para pelanggan dari sejumlah wilayah itu mengetahui produk unggulan dari media sosial, khususnya Instagram.

Francis Lein
Francis Lein

Francis Lein, pemilik usaha Lopo Kopi di Larantuka, Flores Timur, NTT, memberikan keterangan saat ditemui tim Jelajah Sinyal, Selasa (8/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Di samping media sosial, Ancis juga aktif memasarkan produknya melalui sejumlah platform marketplace

“Saya memang menargetkan pasar yakni kedai kedai kopi yang berada di luar Flores karena mereka menginginkan biji kopi sangrai yang fresh… [Pemasaran digital] sangat berpengaruh,” ungkapnya.

Di kota yang sama, tim Jelajah Sinyal 2022 juga berjumpa dengan Yandi Muda Makin. Pemuda ini aktif mempromosikan pariwisata di Flores Timur sembari mengembangkan bisnis penyewaan peralatan camping dengan nama, Legatea.id.

Menurut Yandi, selama ini Flores Timur terkenal sebagai salah satu destinasi wisata rohani. Seperti diketahui, prosesi Semana Santa yang digelar setiap pekan Paskah menjadi salah satu daya tarik Larantuka, Ibu Kota Flores Timur, bagi umat beragama Katolik.

Padahal, kata Yandi, Flores Timur juga memiliki objek wisata alam yang menakjubkan mulai dari wilayah Flores Timur daratan hingga ke area kepulauan, terutama Adonara dan Solor.

Yandi
Yandi

Yandi Muda Makin, pegiat pariwisata di Larantuka, Flores Timur, NTT, memberikan keterangan saat ditemui tim Jelajah Sinyal, Minggu (6/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati
 

Dengan dukungan media sosial, Yandi sejak 2018 secara aktif mempromosikan pariwisata di Flores Timur. Dia mendapatkan respons yang cukup baik, termasuk dari para wisatawan dari luar NTT.

“Banyak yang ingin melihat keindahan alam dan tradisi di Flores Timur. Mereka kontak saya melalui media sosial Legatea.id,” ungkapnya saat ditemui tim Jelajah Sinyal 2022, Minggu (6/11/2022).

Sementara itu, tim Jelajah Sinyal 2022 juga berkesempatan untuk menemui Ferdinandus Watu, orang muda yang sejak 2020 menjabat sebagai Kepala Desa Detusoko Barat. Berkat upayanya mendorong digitalisasi, desa yang terletak di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, NTT ini telah bertransformasi menjadi desa kreatif.

Pria yang akrab disapa Nando ini berhasil mengembangkan potensi pertanian dan pariwisata berbasis alam dengan mengoptimalkan teknologi informasi. Alhasil, Desa Detusoko Barat masuk dalam daftar 50 besar desa wisata terbaik di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Nando menilai digitalisasi menjadi keharusan di tengah era revolusi industri 4.0. Selain itu, pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan masyarakat mau tidak mau memaksa para petani desa untuk memasarkan produk pangannya dengan inovasi digital.

Nando
Nando

Kepala Desa Detusoko Barat Ferdinandus Watu memberikan keterangan kepada tim Jelajah Sinyal, di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Namun, dia mengakui bahwa masih banyak masyarakat desa yang literasi digitalnya kurang, terutama para orang tua. 

“Yang menggunakan android banyak dari generasi milenial. Makanya mau tidak mau secara struktural di dalam sistem kami meski banyak orang tua, tapi kegiatan harian justru [didominasi] anak muda,” jelasnya saat ditemui Tim Jelajah Sinyal, Bisnis Indonesia, yang berkesempatan menyambangi Kantor Desa Detusoko Barat, Selasa (1/11/2022).

Oleh karena itu, kata Nando, kaum muda menjadi ujung tombak dalam program yang diusungnya. Menurutnya, generasi muda yang melek teknologi bisa membantu orang tua dalam mengemas paket sayuran dan pengirimannya.

“Dari sisi marketing juga [anak muda yang diandalkan]. Jadi, kami berkolaborasi dengan anak-anak yang sudah SMA, bahkan sudah kuliah dan tinggal di sini untuk mendukung BUMDes kita,” ungkapnya.

Literasi Digital pada Kaum Muda

Berdasarkan sejumlah temuan di lapangan, tim Jelajah Sinyal 2022 melaporkan bahwa pemanfaatan layanan internet belum maksimal lantaran minimnya pengetahuan masyarakat, khususnya generasi tua di wilayah perdesaan. 

Upaya kaum muda seperti Pedro, Ancis, Yandi dan Nando membuktikan pentingnya peran kaum muda bagi optimalisasi pemanfaatan layanan internet di daerah. Apalagi, perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Flores terbilang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. 

Peran serta kaum muda itu perlu diperkuat lagi dengan literasi digital yang lebih masif dan didukung oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor telekomunikasi.

Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Mastel) Sigit Puspito Wigati Jarot mengatakan fakta di lapangan itu membuktikan bahwa pengembangan infrastruktur telekomunikasi harus sejalan dengan akselerasi dalam literasi digital.

“Jadi semakin memperkuat bahwa program penggelaran infrastruktur dan literasi digital itu harus dijadikan sepaket atau dalam satu program yang menyeluruh,” ungkap Sigit kepada tim Jelajah Sinyal, Kamis (10/11/2022).

Werang, Sikka
Werang, Sikka

Siswi SMP Negeri Werang mengakses internet di dekat salah satu Base Transceiver Station (BTS) milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) di Desa Werang, Waiblama, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (3/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Menurutnya, jaringan yang tergelar akan optimal dimanfaatkan bila ada upaya literasi yang sebanding. Sebaliknya, literasi yang digalakan tidak akan berguna tanpa jaringan yang menjangkau berbagai seluruh negeri atau dengan kualitas yang rendah.

“Idealnya semakin tinggi literasi, semakin meningkat demand trafik dan jaringan, sehingga ada kebutuhan untuk meng-upgrade kualitas jaringan. Harapannya dampak ekonominya juga akan makin muncul.”

Sigit menilai kaum muda bisa menjadi fokus dalam upaya literasi digital. Kelompok masyarakat ini, jelas dia, bisa diandalkan dalam memaksimalkan pemanfaatan internet.

Apalagi, jelas dia, kualitas layanan internet di daerah belum merata. Dengan begitu, kata Sigit, layanan internet yang terbatas sungguh bisa dimaksimalkan bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat. 

“Yang paling pas diutamakan mendapatkan literasi adalah yang muda. Apalagi kalau generasi digital native, prose belajarnya lebih cepat, daripada generasi tua yang sebagian agak sulit untuk migrasi ke pola-pola kerja digital,” pungkasnya.

Dengan upaya literasi digital yang masif kepada kaum muda, diharapkan muncul lebih banyak sosok seperti Pedro, Ancis, Yandi dan Nando yang bisa memberdayakan dan memajukan komunitas lokal dengan ditopang teknologi digital.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper