Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Startup Mamin Lokal Susah Buat Jadi Unikorn, Kok Bisa?

Startup makanan dan minuman atau mamin dinilai sulit untuk menjadi unikorn di Indonesia.
Ahmad Thovan Sugandi
Ahmad Thovan Sugandi - Bisnis.com 26 November 2021  |  12:08 WIB
Startup Mamin Lokal Susah Buat Jadi Unikorn, Kok Bisa?
Ilustrasi - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Startup makanan dan minuman lokal dinilai belum siap meningkatkan valuasinya menjadi unikorn di Indonesia.

Peneliti ekonomi digital Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyebut startup makanan dan minuman saat ini masih didominasi oleh penyedia minuman terutama kopi.

"[Startup] makanan mayoritas penggunaan teknologinya ikut dalam ekosistem platform lain seperti Gofood atau Grabfood. Kalau minuman seperti Kopi Kenangan sudah menjadi perusahaan digital penyedia kopi," ujarnya, Kamis (25/11/2021).

Menurut Huda bisnis startup makanan sangat dipengaruhi oleh tren makanan atau minuman di kalangan masyarakat. Jenis makanan dan minuman yang sedang tren berpengaruh pada pendanaan startup.

Dia mengatakan Kopi Kenangan mendapat pendanaan lebih cepat dari pesaingnya karena berani mengeluarkan banyak modal di awal serta didukung tren kopi.

"Biasanya startup makanan mendapat investasi karena dengan dengan pemodal juga. Susah bagi startup makanan kecil yang tidak tren dan tidak dekat dengan pemodal bisa mendapatkan pendanaan selain dari perbankan," ucapnya.

Menurutnya, hal itu karena startup makanan dinilai memiliki risiko tinggi. Setiap orang mudah masuk dan memulai bisnis di sektor makanan, tetapi juga mudah gulung tikar.

Huda mengatakan tingginya risiko membuat investor enggan mengelontorkan investasi dengan jumlah besar. Selain itu, startup makanan dinilai masih sulit mencapai status unikorn dalam waktu dekat.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Start-Up Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menyebut satu hingga tiga tahun ke depan startup makanan dan minuman dinilai masih sulit mencapai status unikorn.

"Sulit karena market size yang belum mendukung," ujarnya.

Edward mengatakan ke depan memang akan terjadi persaingan antarstartup makanan maupun bisnis makanan konvensional. Namun startup menawarkan pendekatan yang berbeda, yaitu pelayanan yang tidak terbatas ruang dan waktu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

back to top To top