Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Layanan Data Internet Indonesia Paling Murah, Ada Perang Tarif?

Alasan tarif layanan data internet di Indonesia yang murah dibandingkan sejumlah negara Asean menjadi perdebatan beberapa pihak.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  17:12 WIB
Warga saat melakukan rapat daring menggunakan layanan Telkomsel di Kota Sorong, Papua Barat, Minggu (29/3/2020). - ANTARA FOTO/Olha Mulalinda
Warga saat melakukan rapat daring menggunakan layanan Telkomsel di Kota Sorong, Papua Barat, Minggu (29/3/2020). - ANTARA FOTO/Olha Mulalinda

Bisnis.com, JAKARTA – Murahnya harga tarif layanan data di Indonesia menjadi perdebatan. Analis asing menilai bahwa tarif data murah bukan karena perang harga, melainkan infrastruktur seluler Indonesia yang matang.

Wakil President Direktur PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengatakan bahwa analisis tersebut tidak sepenuhnya benar. Memang infrastruktur yang andal membuat konsumsi pelanggan terhadap layanan data makin boros. Alhasil, biaya produksi operator seluler lebih murah karena membeli kapasitas data dalam paket besar.

Dengan biaya produksi yang murah, operator dapat menyalurkan kuota data murah kepada pelanggan. Sayangnya, harga kuota data murah yang diberikan kebablasan akibat kompetisi yang tidak sehat. Operator memberikan harga kepada pelanggan lebih murah daripada yang semestinya untuk meraup pelanggan baru atau menjaga pelanggan yang ada agar tidak diakuisisi operator lain.

“Pilihannya adalah kita untung sedikit atau bahkan mendekati rugi dibandingkan dengan rugi lebih besar lagi. Jadi faktor kompetisinya itu lebih berpengaruh daripada penurunan ongkos produksi,” kata Danny kepada Bisnis.com, Rabu (14/10/2020).

Tidak hanya itu, kata Danny, saking ketatnya persaingan terkadang operator seluler sampai memberi harga dengan margin negatif atau jual rugi. Contohnya, pada kasus pemberian pulsa gratis untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dalam program tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menawarkan harga sebesar Rp1.000 per GB kepada operator. Padahal, jika mengutip penelitian di atas harus harga yang dibayarkan berkisar antara Rp9.000-Rp 10.000.

Sebelumnya, dilansir dari cable.co.uk, Rabu (14/10), sebuah survei teknologi yang berbasis di Inggris menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-14 sebagai negara dengan tarif data seluler murah per 1GB dari 228 negara yang disurvei.

Rata-rata biaya 1GB data seluler di Indonesia adalah Rp9.440. Tarif data seluler di Indonesia tersebut lebih murah dibandingkan dengan Myanmar Rp11.505; Malaysia Rp16.520; Thailand Rp18.142 dan Filipina Rp20.945, sedangkan tarif termurah di kawasan Asia Tenggara ditempati Vietnam dengan tarif Rp8.408.

Analis telekomunikasi konsumen cable.co.uk Dan Howdle menjelaskan biaya data seluler bisa murah karena infrastruktur seluler dan broadband tetap yang sangat baik yang memungkinkan penyedia menawarkan data dalam jumlah besar dan menurunkan harga per gigabyte, begitupun sebaliknya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan bahwa perhitungan tarif di Indonesia sangat unik. Antar zona geografis bisa berbeda dan penarifan sering kali dicampur dengan layanan lain yang bersifat gratis.

“Kita belum dapat mengatakan apakah penelitian mengenai pricing tersebut valid atau tidak karena Indonesia sistem penarifannya agak unik,” kata Heru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

internet telekomunikasi
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top