Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Operator Seluler Harus Berani 'Hadapi' Netflix, Ini Alasannya

Pengamat telekomunikasi menilai operator seluler harus memperjuangkan bargaining-nya dengan penyedia layanan over the top (OTT), seperti Netflix agar tidak terus merugi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  22:12 WIB
Netflix. Bloomberg
Netflix. Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Operator seluler perlu melakukan konsolidasi dan bersikap kompak untuk menghadapi penyedia layanan over the top (OTT), seperti Netflix. Nilai tawar operator seluler harus lebih tinggi mengingat operator seluler merupakan tuan rumah pemilik jaringan.

Pengamat Telekomunikasi Nonot Harsono mengatakan dengan nilai tawar yang tinggi, beban operator seluler untuk menyalurkan akses OTT kepada pelanggan dapat berkurang. Di samping itu, operator telekomunikasi juga berpeluang untuk meraup untung lebih dari sekadar penambahan jumlah pelanggan.

“Dalam bisnis itu kan ada bargaining. Dalam kondisi itu harus dilihat modal operator telekomunikasi apa? Jangan terlalu lugu,” kata Nonot kepada Bisnis.com beberapa waktu lalu.

Nonot mengatakan saat ini operator telekomunikasi masih menghadapi masa transisi dari layanan legacy (suara dan SMS) ke layanan data. Selama masa transisi, mulai dari 2000-2020, operator seluler dinilai belum mengambil sikap atas OTT.

Operator telekokomunikasi cenderung mengeluh di tengah penurunan pendapatan dari layanan suara dan SMS akibat terdisrupsi oleh OTT, khususnya yang bergerak di bidang telekomunikasi dan VoD.

Dahulu aktivitas berkirim pesan antar pelanggan menggunakan SMS yang memakan biaya sebesar Rp150-300 per 169 karakter. Jumlah pendapatan ini tidak dapat tergantikan oleh layanan data, meskipun pelanggan mengirim pesan dalam jumlah banyak bahkan hingga ribuan lembar.

Pelanggan tetap dikenakan tarif murah yang dihitung berdasarkan penggunaan data. Adapun, jika operator menghilangkan layanan atau menetapkan tarif untuk layanan tersebut, operator dapat ditinggal oleh para pelanggan.

Sementara itu dari sisi bandwidth spektrum radio frekuensi, OTT membuat operator seluler terus melakukan investasi untuk menjaga layanan.

Umumnya setiap BTS 3G hanya memiliki kapasitas maskimal 7,2 Mbps. Untuk menonton video dengan kualitas SD, masing-masing orang membutukan 500 Kbps – 1 Mbps. Artinya satu BTS 3G hanya dapat menampung lima orang untuk menonton video berkualitas SD dalam waktu bersamaan.

Adapun, untuk BTS 4G bisa menampung hingga tiga kali lipat dari kapasitas BTS 3G atau sekitar 21 Mbps - 24 Mbps, sehingga kapasitas per BTS hanya sekitar 20 orang.

Jika jumlah penonton video melebihi kapasitas, maka tayangan video pengguna lainnya akan terganggu. Operator pun ditutut untuk menambah kapasitas, dengan tujuan menjaga kenyamanan pelanggan dan agar pelanggan tidak lari ke operator lain. Di sisi lain, OTT tidak memberi apapun kepada operator untuk penambahan investasi tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi Netflix
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top