Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Google Bakal Hapus Otomatis Riwayat Pencarian dan Perjalanan Pengguna

Google mengurangi program pengumpulan data penggunanya dengan memberlakukan penghapusan data perjalanan dan riwayat peramban secara berkala tiap 18 bulan sekali.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  09:30 WIB
Logo Google terlihat di luar kantor perusahaan teknologi tersebut di Beijing, China, Rabu (8/8). - Reuters/Thomas Peter
Logo Google terlihat di luar kantor perusahaan teknologi tersebut di Beijing, China, Rabu (8/8). - Reuters/Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA - Google menjanjikan bakal menghapus secara otomatis riwayat pencarian di dunia maya dan riwayat lokasi penggunanya setelah 18 bulan.

Selain itu, Google juga menjanjikan untuk memudahkan semua orang mengakses layanan pencarian, Maps dan Yotube tanpa dilacak.

Seperti dikutip dari Antara, Kamis (25/6/2020) pembaruan pengaturan Google tersebut akan membuat riwayat tontonan pengguna baru Youtube hilang setelah 36 bulan, serta riwayat lokasi dan penelusuran di peramban atau web akan hilang setelah 18 bulan.

Pengguna memiliki opsi untuk memilih jangka waktu yang lebih pendek atau lebih lama. Namun, Google mungkin masih dapat mengakses dan menyimpan detail lokasi dengan cara lain.

Untuk mengakali hal ini, pengguna dapat menggunakan "mode penyamaran," dengan menekan gambar profil di bagian atas pencarian Maps atau aplikasi Youtube. Pasalnya, Google tidak menyimpan aktivitas pengguna saat berada dalam mode penyamaran.

Google memperoleh sebagian besar pendapatannya dari iklan, yang biasanya didasarkan pada data tentang apa yang ditonton dan dibaca pengguna serta di mana mereka berada.

CEO Google & Alfabet Sundar Pichai tahun lalu mengakui bahwa Google mengumpulkan lebih banyak data daripada yang diperlukan untuk iklan dan berkomitmen untuk meminimalkan pengumpulannya.

Pembaruan untuk kontrol privasi Google tersebut hadir saat perusahaan mesin pencari itu menghadapi pengawasan yang semakin ketat pada praktik pengumpulan datanya.

Undang-undang baru mengenai privasi di California dan Eropa mendorong perusahaan internet untuk menyesuaikan praktik selama dua tahun terakhir.

Beberapa tuntutan hukum oleh konsumen dan jaksa agung negara bagian AS dalam beberapa bulan terakhir menuding Google melakukan penipuan dalam pengumpulan data.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

google keamanan data

Sumber : Antara

Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top