Prospek Bisnis Vsat di Indonesia Masih Cerah, Ini Sebabnya

Bisnis stasiun penerima sinyal dari satelit atau Very Small Aperture Terminal (Vsat) diyakini masih akan tumbuh, mengingat kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri dari pulau-pulau.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 19 September 2019  |  15:09 WIB
Prospek Bisnis Vsat di Indonesia Masih Cerah, Ini Sebabnya
Ilustrasi satelit komunikasi - Wikimedia Commons

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis stasiun penerima sinyal dari satelit atau Very Small Aperture Terminal (Vsat) diyakini masih akan tumbuh, mengingat kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri dari pulau-pulau.

GM Marketing Satelit PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Meidiyanto Andwiputro mengatakan bisnis Vsat di perseroan masih mencatatkan pertumbuhan dari segi pendapatan.

Bahkan, untuk penjualan Vsat ritel, Meidi mengklaim perseroan mampu mencatat persentase pertumbuhan pendapatan hingga dua digit setiap bulannya. Hanya saja, Meidi tidak menyebutkan nilainya. 

Dia optimistis pertumbuhan tersebut akan terus berlanjut mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan kebutuhan akan teknologi satelit komunikasi masih terus meningkat.

Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan bisnis Vsat juga didorong oleh inisiatif pemerintah untuk melakukan pemerataan infrastruktur telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia melalui program USO.

“Di samping itu, belum semua daerah dapat terlayani oleh serat optik, karena serat optik belum dapat menjangkau hingga ke pelosok nusantara,” kata Meidi kepada Bisnis.com, belum lama ini.

Meidi menambahkan faktor lain yang mendorong pendapatan dari bisnis Vsat PSN adalah penjualan secara retail.

Akibat geografis Indonesia yang terdiri banyak pulau, kata Meidi, masih banyak wilayah-wilayah yang belum mampu terjangkau infrastruktur terrestrial, sehingga menggunakan Vsat sebagai solusi yang cepat untuk gelar jaringan komunikasi.   

Meidi menambahkan hingga saat ini perseroan telah menjual ribuan Vsat, yang terdiri dari VSAT Very Small Apperture Terminal Single Channel Per Carrier (SCPC) dan Vsat berbasis Internet Protocol (IP).

Vsat IP mendominasi penjualan karena harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan dengan SCPC. Meidi berharap hingga akhir 2019 perseroan mampu menjual 10.000 Vsat.   

“Kalau yang SCPC itu biasanya perusahaan-perusahaan besar saja yang pakai,” kata Meidi.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, Arif Prabowo, mengatakan meskipun intensitas penggelaran serat optik oleh operator telekomunikasi sedang marak, bisnis Vsat tetap dibutuhkan oleh pelanggan.

Dia mengatakan Vsat memiliki cakupan yang lebih luas karena tidak terkendala oleh penggelaran jaringan. Arif mengklaim hingga semester I/2019 bisnis Vsat di perseroan mencatatkan pertumbuhan, hanya saja dia tidak menyebutkan pertumbuhan tersebut.

“Tantangan bagi industri VSAT adalah untuk dapat meningkatkan kapabilitasnya sehingga mampu menyesuaikan dengan  teknologi baru seperti High Throughput Satellite(HTS ), Stratospheric Platforms dan lain-lain,” kata Arif.

Sementara itu,  Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward, mengatakan mahalnya biaya operasional untuk Vsat menjadi salah satu penyebab terhambatnya penetrasi Vsat.

Dia menilai pelanggan korporasi maupun ritel, merasa terbebani dengan biaya perawatan yang harus mereka keluarkan untuk mengoperasikan Vsat.

“Saat ini tantangannya terhadap curah hujan dan  sumber daya listrik di daerah pemasangan, biaya opex-nya tinggi, Vsat kira kira 50—100 watt, termasuk modem dan router. Kalau pakai solar belum tahu, tergantung genset,” kata Ian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ip vsat, satelit

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top