Bisnis Vsat Terbantu Teknologi Satelit dan Kondisi Geografis

Leo Dwi Jatmiko
Senin, 16 September 2019 | 18:59 WIB
 Satelit Nusantara Satu buatan PT Pasifik Satelit Nusantara./www.psn.co.id(psn.co.id)
Satelit Nusantara Satu buatan PT Pasifik Satelit Nusantara./www.psn.co.id(psn.co.id)
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis stasiun penerima sinyal dari satelit atau Very Small Aperture Terminal (Vsat) diyakini masih akan tumbuh ditengah gelaran agresif serat optik yang dilakukan oleh operator telekomunikasi.

GM Marketing Satelit PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Meidiyanto Andwiputro, mengatakan bisnis Vsat di perseroan masih mencatatkan pertumbuhan dari segi pendapatan.

Bahkan untuk penjualan Vsat retail, Meidi mengklaim perseroan mampu mencatat persentase pertumbuhan pendapatan hingga dobel digit setiap bulannya. Hanya saja, Meidi tidak menyebutkan nilainya. 

Dia optimistis pertumbuhan tersebut akan terus berlanjut mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan teknologi satelit komunikasi masih terus meningkat.

Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan bisnis Vsat juga didorong oleh inisiatif pemerintah untuk melakukan pemerataan infrastruktur telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia melalui program USO.

“Di samping itu belum semua daerah dapat terlayani oleh serat optik, karena serat optik belum dapat menjangkau hingga ke pelosok nusantara,” kata Meidi kepada Bisnis.com, Senin (16/9/2019).

Meidi menambahkan faktor lain yang mendorong pendapatan dari bisnis Vsat PSN adalah penjualan secara retail. Akibat geografis Indonesia yang terdiri banyak pulau, kata Meidi, masih banyak wilayah-wilayah yang belum mampu terjangkau infrastruktur terrestrial, sehingga menggunakan Vsat sebagai solusi yang cepat untuk gelar jaringan komunikasi.   

Meidi menambahkan hingga saat ini perseroan telah menjual ribuan Vsat, yang terdiri dari VSAT Very Small Apperture Terminal Single Channel Per Carrier (SCPC) dan Vsat berbasis Internet Protocol (IP).

Vsat IP mendominasi penjualan karena harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan dengan SCPC. Meidi berharap hingga akhir 2019 perseroan mampu menjual 10.000 Vsat.   

“Kalau yang SCPC itu biasanya perusahaan-perusahaan besar saja yang pakai,” kata Meidi.

Meidi mengatakan meskipun bisnis Vsat cukup menjanjikan, namun tidak dapat dipungkiri sebaran jaringan GSM yang sudah makin luas, biaya ekspedisi yang mahal, membebani industri ini untuk tumbuh. “Vsat sering kali harus dikirimkan ke daerah-daerah pelosok Indonesia dan juga biaya bandwidth yang lebih mahal dari terrestrial,” kata Meidi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper