Operator Seluler Ramai-Ramai Ekspansi ke Kalimantan

PT Hutchison 3 Indonesia dan PT Smarfren Telecom Tbk berencana menggelar jaringan di pulau Kalimantan, seiring dengan rampungnya Palapa Ring Tengah dan nilai ekonomis di daerah tersebut.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  14:34 WIB
Operator Seluler Ramai-Ramai Ekspansi ke Kalimantan
Teknisi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) melakukan pemeliharaan perangkat pada menara Base Transceiver Station (BTS) di kawasan Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (15/4/2019). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — PT Hutchison 3 Indonesia dan PT Smarfren Telecom Tbk berencana menggelar jaringan di pulau Kalimantan, seiring dengan rampungnya Palapa Ring Tengah dan nilai ekonomis di daerah tersebut.

Wakil Direktur Utama 3 Indonesia Danny Buldansyah mengatakan pada tahun ini, perseroan berencana menghadirkan layanan di Nunukan, Kalimantan Utara.

Dia menuturkan dalam mendatangkan layanan, perseroan akan memanfaatkan Palapa Ring Tengah yang telah selesai pembangunannya beberapa bulan lalu.  

“Gabungan, sewa Palapa Ring dan juga beberapa provider termasuk Telkom,” kata Danny kepada Bisnis.com, Selasa (20/8/2019). 

Danny menuturkan hadirnya 3 Indonesia di Kalimantan Utara, melengkapi gelaran jaringan perseroan di pulau yang rencananya akan dibangun Ibu Kota baru Indonesia.

Tri Indonesia sebelumnya telah hadir di Kalimantan Barat, Selatan dan Timur. Jaringan 3 Indonesia rata-rata  terdapat di masing-masing ibu kota provinsi tersebut. 

“Selain di Ibu kota ada juga beberapa di luar [Ibu Kota] seperti Kutai,” kata Danny.

Danny mengatakan bahwa Kalimantan berkontribusi sekitar 10-12% dari total pelanggan 3 Indonesia yang saat ini yang berjumlah 38 juta pelanggan. Artinya sekitar 4,5 juta pelanggan 3 Indonesia berasal dari Kalimantan.

Kalimantan menempati urutan ketiga sebagai kontributor pelanggan di perseroan, adapun mayoritas pelanggan 3 Indonesia masih berada di Pulau Jawa dan Sumatera. Danny mengatakan sekita 60% dari total pelanggan 3 Indonesia  

Sementara itu, Smartfren belum berencana hadir di Kalimantan Utara pada tahun ini. Smartfren masih menunggu  Palapa Ring Tengah dan Palapa Ring Barat terhubung, sebelum memutuskan untuk masuk ke wilayah Kalimantan.

Deputi CEO Smartfren, Djoko Tata Ibrahim, mengatakan meski belum berencana hadir di Kalimantan Utara, namun sejumlah kota di Kalimantan telah merasakan manfaat jaringan Smartfren seperti, Samarinda, Banjarmasin, dan Balikpapan.

Dalam mendorong penetrasi ke daerah-daerah tersebut, Smartfren mengeluarkan produk khusus kartu perdana Samba dengan total bonus kuota internet 90 GB. Selama Ramadan hingga akhir Agustus, dua kartu perdana Samba dijual seharga Rp30.000 dari harga normal Rp. 120.000 atau diskon 75%.

“Kalimantan Utara itu selanjutnya lah, awal tahun depan kami coba ke sana,” kata Djoko.

Djoko menambahkan perseroan kesulitan untuk menghadirkan jaringan di Kalimantan Utara karena kabel backbone atau serat optik di daerah tersebut kurang optimal. Djoko mengklaim saat ini 5% dari total pelanggan perseroan berasal dari Kalimantan.

Sementara itu, PT XL Axiata selaku operator yang telah hadir terlebih dahulu di Kalimantan, mengaku tidak khawatir dengan hadirnya operator seluler lain di daerah tersebut. 

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini, mengatakan hadirnya operator lain akan membuat persaingan di Kalimantan menjadi lebih sehat, karena masyarakat memiliki lebih banyak pilihan.

Di samping itu, lanjutnya, kehadiran operator baru juga akan memacu XL Axiata untuk meningkatkan pelayananannya lebih baik lagi.

Dia berpendapat sebagai operator yang lebih dahulu berekspansi di Kalimantan, kualitas jaringan XL Axiata diyakini lebih stabil.

“Karena kami sudah lebih dahulu, artinya infrastrukturnya sudah lebih siap. Tidak hanya BTS namun juga jaringan distribusi dan jaringan layanan pelanggan,” kata Dian.

Dian menuturkan saat ini perseroan juga terus menggenjot pembangunan jaringan di luar pulau Jawa. Sekurangnya 55% dari total investasi yang digelontorkan tiap tahunnya, kata Dian, dialokasikan untuk gelar jaringan di luar Jawa.

Diketahui pada tahun ini, belanja modal XL Axiata sekitar Rp7,5 triliun. Artinya sekitar Rp4,12 triliun dianggarkan untuk gelar jaringan di luar Jawa.

Jaringan di Kalimantan

Laporan Opensignal menyebutkan berdasarkan survei yang dilakukan pada Januari – April 2019, sejumlah wilayah di Kalimantan memiliki kualitas jaringan, unduh dan unggah, yang cukup memadai.

Kota Balikpapan menjadi kota dengan kecepatan unduh tercepat di Kalimantan dengan 8,6 Mbps, menyusul kemudian 8,1 Mbps, Pontianak 7,7 Mbps, dan Banjarmasin 7,5 Mbps. Kota-kota di Kalimantan memiliki kecepatan unduh yang lebih cepat dibandingkan dengan Jabodetabek, kecuali kota di Kalimantan Utara, yang tidak masuk di laporan Opensignal.        

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika jumlah BTS di Kalimantan Utara merupakan yang paling sedikit dibandingkan dengan wilayah Kalimantan lainnya.

Tercatat pada 3 bulan pertama2019 Jumlah BTS 2G di Kalimantan Utara hanya 334 BTS, naik 2,4% dibandingkan dengan kuartal II/2018. Adapun BTS 3G sebanyak 526 BTS, turun 5,9% dan BTS 4G sejumlah 353 BTS, naik 36,81%.   

Jumlah tersebut jauh tertinggal dengan Kalimantan Barat, Timur, Tengah dan Selatan yang rata-rata jumlah BTS-nya mencapai angka diatas 2.000 BTS.   

Mengenai kehadiran jaringan di Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan kehadiran infrastruktur telekomunikasi penting di Kalimantan, mengingat beberapa tahun ke depan Ibu Kota akan dipindahkan ke Pulau terbesar di Indonesia tersebut.

Dia mengusulkan agar operator hadir dengan sukarela maka perlu didorong penggunaan infrastruktur secara bersama atau sharing.

“[setelah itu] maka tidak ada alasan operator untuk tidak ikut menyediakan layanan telekomunikasi dan internet di sana,” kata Heru.

Sementara itu, Analis Kresna Sekuritas Etta Rusdiana menilai meskipun Ibu Kota pindah, pembangunan jaringan yang dilakukan oleh operator seluler hanya berkutat pada daerah yang dibangun Ibu Kota, tidak  terjadi secara menyeluruh di pulau Kalimantan.

Hal tersebut disebabkan operator melakukan pertimbangan pertimbangan dari sisi bisnis sebelum berekspansi. “Yang penting kan coverage jaringan terhadap populasi, percuma juga kan ekspansi kalau gak ada penduduknya,” kata Etta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
operator telekomunikasi

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top