Investasi Industri Gim Nasional Belum Maksimal

Ketua Asosiasi Gim Indonesia Narendra Wicaksono menilai anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengembangan industri gim di Indonesia sampai saat ini masih belum setimpal dengan apa yang dicapai.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  13:21 WIB
Investasi Industri Gim Nasional Belum Maksimal
Peserta bermain game online PUBG pada acara Spirit of Millennials Games Day 2018 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (13/12/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Asosiasi Gim Indonesia Narendra Wicaksono menilai anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengembangan industri gim di Indonesia sampai saat ini masih belum setimpal dengan apa yang dicapai.

Bercermin dari tiga kali penyelenggaraan Bekraf Game Prime yang merupakan ajang B2B industri gim terbesar di Indonesia, pencapaiannya dikatakan tidak begitu signifikan. Senada dengan Hari, Narendra mengatakan hal itu terjadi karena kurangnya jumlah investor.

Namun, bukan berarti pundi-pundi yang dihasilkan dari ajang B2B tersebut tidak banyak. Narendra mengungkapkan, hanya dengan 10 pelaku bisnis industri gim saja, nilai transaksi yang dihasilkan di ajang Bekraf Game Prime sebelumnya bisa mencapai Rp40 miliar.

AGI sendiri berperan sebagai agen perubahan atau katalisator dalam proses pengembangan industri gim Tanah Air yang terus berlangsung. Asosiasi tersebut mewakilkan para pelaku industri gim untuk berhubungan dengan pemerintah dan industri.

"Karena dengan adanya dukungan AGI, pelaku bisnis bisa lebih mudah mendapatkan dukungan," ucap Narendra, belum lama ini.

Selain itu, EVP Digital & Next Business PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Joddy Hernadi, mengaku belum mengetahui soal prioritas pemerintah dalam membangun ekosistem industri gim Indonesia. Namun, lanjutnya, sebaiknya jumlah investor di industri gim Indonesia diharapkan memang bisa lebih banyak.

Terutama, jika dilihat dari market size-nya, investor diharapkan dapat melihat prospek industri gim Tanah air serta tertarik untuk menanamkan modal.

Selain itu, industri gim Indonesia yang masih tertinggal cukup jauh dari negara-negara lain, khususnya China dan Amerika Serikat, menuntut adanya sokongan serta kebijakan-kebijakan yang mendukung dari pemerintah. Adapun, kedua hal tersebut dinilai menjadi hal yang paling penting untuk saat ini.

Keterbatasan anggaran dari pemerintah sendiri pun dipandang sebagai hal yang bisa dimaklumi. Pasalnya, kata Joddy, pemerintah memiliki banyak prioritas yang membutuhkan anggaran, sehingga pihak swasta dianjurkan untuk mengambil kendali.

Joddy pun menggunakan istilah 'ada gula ada semut' untuk menggambarkan situasi ideal dari sebuah industri yang dapat menarik minat investasi dari pihak swasta. Daya tarik tersebut, tuturnya, bergantung kepada beberapa hal vital, seperti hadirnya talenta serta kemampuan pelaku bisnis dalam melihat pasar.

"Artinya, bagaimana kita mencium peluang. Kalau sudah ketemu pattern-nya, investor akan datang sendiri," ujar Joddy kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Sebelumnya, Telkom telah menyiapkan dana inkubasi sekitar Rp500 miliar atau sekitar 0,5% dari pendapatan bersih perseroan untuk keperluan eksplorasi. Dana tersebut digelontorkan kepada unit bisnis perseroan yang mengelola industri gim.

Sejauh ini, Telkom telah membangun inkubator bernama Indigo Inkubator yang berada di 4 lokasi, meliputi Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri game

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top