Nyaris Setengah Lulusan IT Gagal Kerja di Korporasi

Salah satu penyebab tingkat serapan tenaga kerja TI masih rendah adalah tertinggalnya kemampuan yang dimiliki oleh para lulusan IT di Indonesia
Leo Dwi Jatmiko | 16 Mei 2019 10:18 WIB
Co-working space. - UnionSPACE

Bisnis.com, JAKARTA — Hampir setengah dari lulusan perguruan tinggi jurusan pemrograman gagal bekerja sebagai pengembang aplikasi dan web di perusahaan. Kondisi ini menunjukkan ketimpangan antara kemampuan yang didapatkan selama kuliah dengan kebutuhan industri.

Dicoding melakukan penelitian dengan menyebarluaskan kuesioner kepada 150.000 orang pengembang (developer) teknologi informasi yang tersebar di 460 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa hanya 56% SDM IT yang sukses berkarier sebagai IT developer atau engineer di perusahaan, sedangkan 44% lainnya masih bekerja lepas.

CEO Dicoding, Narenda Wicaksono mengatakan, salah satu penyebab tingkat serapan tenaga kerja TI masih rendah adalah tertinggalnya kemampuan yang dimiliki oleh para lulusan IT di Indonesia. Mereka juga tidak memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri terkini.

Dia mengatakan pesatnya perkembangan industri informasi dan teknologi menuntut agar para tenaga kerja di bidang ini untuk terus mengasah dan memperbarui ilmu yang dimiliki. Meskipu mayoritas responden merupakan lulusan IT, dua dari tiga orang merasa bahwa mereka baru mulai belajar pemrograman dasar seperti Android, Java, dan Web saat mengikuti kelas pembelajaran online di luar kuliah.

"Fakta ini menunjukkan bahwa kita perlu upaya kolaboratif dan kerjasama dari berbagai pihak sektor industri, pendidikan, dan pemerintah - untuk mengakselerasi keterampilan SDM bidang IT di Indonesia," ujar Narenda di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Narenda menambahkan kolaboratif antarpemangku kepentingan bertujuan agar talenta digital di Indonesia mampu berdaya saing global, sesuai dengan kebutuhan industri, serta mumpuni menjadi penggerak perekonomian digital bangsa.

Dia mengatakan untuk mencapai tujuan tersebut, Dicoding bermitra dengan beberapa perusahaan baik nasional maupun multinasional dalam penyediaan kurikulum pemrograman termutakhir.

"Semua kelas Dicoding dapat diakses secara online dan disajikan dalam bahasa indonesia untuk menjamin kemudahan belajar dan aksesibilitas bagi siapapun, di mana pun berada," kata Narenda.

Narenda melihat kendala lain yang seringkali dihadapi oleh talenta digital Indonesia adalah persoalan biaya. Tuntutan untuk terus memperbarui dan meningkatkan keterampilan berimbas pada  kebutuhan biaya yang tidak sedikit untuk pendidikan. Untuk mengatasi hal tersebut, sambungnya, pada Ramadan ini Dicoding meluncurkan program Berbagi Beasiswa, Berbagi Berkah. Program ini memberikan satu beasiswa kelas, untuk setiap pembelian satu kelas pembelajaran online Dicoding.

Narenda berharap agar program dapat mendorong pemerataan kesempatan belajar bagi developer sekaligus menumbuhkembangkan ekosistem digital yang kuat di Indonesia.

Pada Mei 2019, Dicoding menawarkan 19 kelas berbeda dengan ragam jenjang dari pemula hingga mahir. Cakupan materi pembelajaran meliputi Membuat Aplikasi Android, Membuat Game, Membangun Progressive Web Apps, Cloud, Flutter, Kotlin for Android, Blockchain, Java, Web, Chatbot, Cognitive, serta Manajemen Source Code.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
talenta digital

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup