Cara Qlue Membangun Kota Pintar yang Aman dari Hacker

Penggunaan beragam perangkat internet of things untuk membangun kota pintar atau smart city menimbulkan risiko siber.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  09:11 WIB
Cara Qlue Membangun Kota Pintar yang Aman dari Hacker
Co-Founder and CTO Qlue Andre Hutagalung (kanan) berbincang dengan Chief Commercial Officer Maya Arvini usai jumpa pers inisiasi Smart Citizen Day 2019, di Jakarta, Rabu (20/3/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Penggunaan beragam perangkat internet of things untuk membangun kota pintar atau smart city menimbulkan risiko siber. Pemerintah kota harus memastikan infrastruktur penunjang kota pintar dilengkapi dengan sistem keamanan yang terjamin.

Co-Founder dan CTO, Qlue, Andre Hutagalung, mengungkapkan beberapa langkah untuk mengembangkan kota pintar dengan sistem keamanan yang terjamin. Menurutnya, baik pemerintah maupun pihak pengembang harus memerhatikan beberapa hal ketika mendesain sebuah kota pintar.

"Desain kota pintar memerlukan standardisasi enkripsi, autentikasi, serta protokol komunikasi antar perangkat. Selain itu, lanjutnya, standar autentikasi untuk aplikasi yang digunakan oleh masyarakat dan operator harus selalu diperbarui," ujar Andre kepada Bisnis, Selasa (14/5).

Hal lain terkait dengan keamanan yang perlu dilakukan adalah membatasi jaringan pribadi antar perangkat komunikasi, pemanfaatan Disaster Recovery Center (DRC) mengingat sebagian wilayah Indonesia rawan bencana alam, dan memanfaatkan perangkat keamanan jaringan untuk menghadapi serangan peretas ataupun virus.

"Terutama terhadap serangan yang mengancam sistem yang berhubungan langsung dengan jaringan publik atau internet," jelasnya.

Andre melanjutkan, jika semua hal tersebut terpenuhi serta dilaksanakan dengan benar, akses dan komunikasi data akan aman serta privasi setiap warga negara terjaga dengan baik.

Kota pintar sendiri adalah sistem yang dibangun dengan tujuan meningkatkan produktivitas daerah terpencil dan daya saing ekonomi, dengan memungkinkan terjadinya aktivitas pertukaran data seperti teknologi pencahayaan pintar, sistem parkir pintar, manajemen sampah, sistem drainase pintar, dan sistem kelistrikan pintar.

Biasanya, infrastruktur kota pintar terdiri dari berbagai objek dan mesin yang terhubung dalam sebuah jaringan kompleks yang saling mengirimkan data menggunakan teknologi nirkabel dan komputasi awan.

Konektivitas internet of things yang dapat dipercaya merupakan salah satu dari sekian banyak persyaratan untuk mengembangkan suatu kota pintar dan dapat mendukung layanan lain seperti analisa big data, implementasi kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin (ML), dan teknologi blockchain

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smart city

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top