WhatsApp Luncurkan Patch Tutup Celah Spyware Israel

The Financial Times melaporkan bahwa kerentanan di sistem WhatsApp membuat peretas bisa menyelipkan spyware di ponsel melalui fungsi panggilan suara WhatsApp.
Newswire | 14 Mei 2019 16:59 WIB
Aplikasi WhatsApp terlihat di layar ponsel. - Reuters/Thomas White

Bisnis.com, JAKARTA — WhatsApp mendorong agar penggunanya mengunduh aplikasi versi terbaru setelah terbitnya laporan bahwa aplikasi pesan instan milik Facebook tersebut rentan terinfeksi spyware.

Reuters mengutip The Financial Times melaporkan bahwa kerentanan di sistem WhatsApp membuat peretas bisa menyelipkan spyware (program komputer yang digunakan untuk memata-matai pengguna) di ponsel melalui fungsi panggilan suara WhatsApp.

Program spyware yang bisa berfungsi di ponsel Android dan iPhone tersebut, menurut FT, dikembangkan oleh perusahaan pemantauan siber yang berbasis di Israel, NSO Group. WhatsApp tidak bisa memperkirakan berapa banyak ponsel yang terinfeksi oleh program peretasan tersebut.

Juru bicara perusahaan menyatakan bahwa WhatsApp bekerja sama dengan mitra industrinya untuk menyediakan tambahan sistem keamanan untuk melindungi penggunanya.

“WhatsApp mendorong agar pengguna memperbarui ke versi aplikasi terbaru, sekaligus memastikan mereka menggunakan versi sistem operasi terkini, untuk melindungi diri dari potensi menjadi target program yang didesain untuk mengintip informasi yang tersimpan di ponsel,” kata juru bicara WhatsApp.

FT melaporkan bahwa tim WhatsApp di San Fransisco dan London bekerja lembur untuk menutup lubang keamanan di sistem WhatsApp dan mulai menunggah pembaruan ke peladen perusahaan sejak Jumat pekan lalu. Pembaruan tersedia bagi pengguna WhatsApp mulai Senin, pekan ini.

NSO, kepa Reuters, menyatakan bahwa teknologi spyware perusahaan telah mendapatkan otorisasi dari agen pemerintah untuk melawan teror dan aktivitas kejahatan.

“Kami menyelidiki setiap tuduhan penyalahgunaan yang kredibel. Jika perlu, kami mengambil tindakan, termasuk mematikan sistem.

Facebook mengakuisisi WhatsApp pada 2014 dengan nilai transaksi US$19 miliar. Saat ini, ada lebih dari 1,5 miliar pengguna WhatsApp di seluruh dunia.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
whatsapp, serangan siber

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup