Indonesia Terkena 200 Juta Serangan Siber pada 2018

Dengan semakin kompleksnya ancaman siber, kebutuhan terhadap keamanan siber menjadi tantangan terbesar bagi suatu wilayah atau negara.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  16:11 WIB
Indonesia Terkena 200 Juta Serangan Siber pada 2018
Ilustrasi - youtube

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah serangan siber ke institusi di wilayah Indonesia tahun lalu melampaui 200 juta insiden. Gempuran ini mengharuskan BUMN dan perusahaan swasta semakin serius membangun keamanan siber.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Teknologi dan Industri Sekuriti Indonesia (ATISI) Aritonang mengatakan, perusahaan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) wajib mewaspadai serangan siber.

Dia menjelaskan, berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), pada 2018 Indonesia mengalami lebih dari 200 juta serangan siber.

“Melihat hal ini, perusahaan dan BUMN wajib mewaspadai serangan siber,” ujar Aritonang dalam Seminar & Workshop First Australian Unified Threat Management Solusion di Jakarta, Rabu (27/2).

Sementara itu, Direktur sebuah perusahaan keamanan siber Australia Red Piranha, Richard Baker, mengungkapkan dalam Top 10 Global Business Risks Allianz Risk Barometer,  insiden siber serta interupsi bisnis menempati posisi pertama dan kedua dengan persentase 37%.

Dia melanjutkan, dengan semakin kompleksnya ancaman siber, kebutuhan terhadap keamanan menjadi tantangan terbesar bagi suatu wilayah atau negara. 

Selain itu, besarnya biaya yang diperlukan untuk keamanan siber terkadang menjadi hambatan karena korporasi pada akhirnya sering kali abai terhadap proteksi siber.

Kerja sama antara Red Piranha dan Professtama memungkinkan setiap UKM, korporasi, BUMN, dan Managed Service Provider di Indonesia untuk mendapatkan sistem pertahanan berlapis.

Adapun, Crystal Eye, produk solusi Unified Threat Management (UTM) pertama Australia yang dijual di Indonesia melalui kerja sama antara Professtama dan Red Piranha, dilengkapi dengan Next Generation Firewall (NGFW), intelijen pendeteksi ancaman aktif, dan penyimpanan algoritme jangka panjang dengan kapasitas 20 terabyte.

Sebagai gambaran, sistem intelijen pendeteksi ancaman aktif Crystal Eye mampu memproses lebih dari 14 juta indikator ancaman (IOC) per hari dengan kemampuan analisa dan visibilitas aktual yang memungkinkan penanganan ancaman secara otomatis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
serangan siber

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top