Kecepatan Starlink di RI Tembus 300 Mbps, Pelanggan Satria-1 Bakal Hijrah?

Leo Dwi Jatmiko
Selasa, 14 Mei 2024 | 15:40 WIB
Satelit Satria saat diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat/doc. istimewa
Satelit Satria saat diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat/doc. istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Satelit orbit rendah (LEO) Starlink mampu memberikan layanan internet yang jauh lebih cepat dari rerata kecapatan 4G di Tanah Air. Menjadi ancaman bagi pasar Satelit Satria-1 milik Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), yang dibangun dengan biaya Rp8 triliunan. 

Diketahui, Satria-1 merupakan satelit yang khusus memberikan akses internet di area tertinggal, terdepan, terluar (3T). Rencananya satelit ini bisa memfasilitasi layanan internet di 50.000 titik fasilitas publik dengan kecepatan 4 Mbps. 

Satelit yang mengorbit dengan ketinggian di atas 36.000 kilometer itu dibangun oleh Satelit Nusantara 3 dan dirakit Thales Alenia Space (TAS) di Prancis memakai platform SpaceBus NEO. Biaya investasi pembuatan SATRIA-1 membengkak, awalnya US$450 juta (sekitar Rp6,6 triliun) menjadi US$540 juta (sekitar Rp8 triliun). 

Sementara satelit pendatang, Starlink, beroperasi dengan ketinggian sekitar 550 kilometer - 2.000 kilometer. Dengan posisinya yang rendah, Starlink mampu memberikan internet dengan latensi dan kecepatan yang jauh lebih baik dari Satria-1. 

Ketua Umum Indonesia Digital Empowering Community (Idiec) Tesar Sandikapura mengatakan dengan kecepatan layanan yang lebih baik dari satelit milik Bakti dan sateli Geo lainnya, Starlink dapat mengambil pasar milik Satria-1. 

Dia menuturkan meski saat ini secara harga layanan terbilang mahal, tetapi jika ada kebutuhan dan skema yang menguntungkan pelanggan, tidak menutup kemungkinan pelanggan Satria-1 beralih ke Starlink. 

“Secara teknologi, cakupan dan harga masih termasuk murah [Starlink]” kata Tesar kepada Bisnis, Selasa (14/5/2024). 

Diketahui, Starlink memiliki paket personal yang dibagi menjadi 3 layanan yakni Residensial, Jelajah, dan Kapal. Kemudian ada juga paket bisnis dibagi menjadi Lokasi Tetap, Mobilitas Darat, dan Maritim.

Paket residensial dibanderol seharga Rp750.000 per bulan, paket Jelajah mulai dari Rp990.000 per bulan, dan paket kapal mulai dari Rp4,3 juta untuk 50 GB. 

Kemudian untuk paket bisnis, paket Lokasi Tetap memiliki harga Rp1,1 juta/bulan untuk prioritas 40 GB, kemudian, Prioritas-1 TB Rp3juta/bulan Prioritas-2 TB Rp6,1 juta/bulan Prioritas-6TB Rp12,3 juta/bulan. 

Tesar mengatakan dengan harga dan layanan interne yang mencapai ratusan Mbps per titik, cukup jadi solusi di berbagai area mulai dari rural bahkan hingga perkotaan. Kecepatan Starlink yang tinggi menurutnya tak luput dari teknologi dan jumlah satelit yang mengorbit di atas bumi. Alhasil, meskipun jumlah penggunanya membludak di kemudian hari, layanan yang disediakan diperkirakan tetap terjaga. 

“Pasti kalau tambah pengguna makin lambat, tetapi kan Starlink tidak hanya satu satelit,” kata Tesar. 

Untuk diketahui, per April 2024 SpaceX dikabarkan telah mengoperasikan sekitar 5.900 satelit. Diproyeksikan hingga akhir 2024, ada sekitar 6.400 satelit dari total 12.000 satelit yang diizinkan oleh badan antariksa Amerika Serikat. 

Berbeda, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward mengatakan bahwa kecepatan satelit Starlink akan meredup seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna. 

“Sekarang ini kan Starlink bisa 300 Mbps karena penggunanya masih sedikit, cuma satu orang saat melakukan pengujian test kecepatan. Ketika nanti penggunanya sudah banyak, kita tidak tahu,” kata Ian. 

Merujuk pada sebuah laporan yang dibagikan oleh tim Starlink, per Maret 2024, perusahaan mengeklaim melayani lebih dari 2,6 juta pelanggan di seluruh dunia. Meski memiliki banyak pengguna, latensi yang dihadirkan justru makin baik dan mengecil. 

Latensi mediannya berkurang dalam sebulan terakhir dari 48,5 milidetik menjadi 33 milidetik selama jam sibuk penggunaan di Amerika Serikat. 

Tim juga melaporkan penurunan “latensi jam sibuk terburuk” dari 150 milidetik menjadi kurang dari 65 milidetik di area cakupan tersebut. Di luar AS, latensi median berkurang hingga 25% dan latensi yang lebih buruk hingga 35%, menurut studi tersebut.

Latensi adalah jeda waktu transfer data dari satu titik ke titik lain. Makin kecil latensi artinya makin baik karena proses transfer data makin cepat. 

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper