Deepfake, dari Hiburan Menjadi Alat Penipuan dan Pencurian Identitas

Rika Anggraeni
Kamis, 25 April 2024 | 09:27 WIB
Seorang karyawan di Pusat Kejahatan Keuangan Westpac Banking Corp. di Sydney, Australia, sedang memantau aktivitas di internet/Bloomberg
Seorang karyawan di Pusat Kejahatan Keuangan Westpac Banking Corp. di Sydney, Australia, sedang memantau aktivitas di internet/Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Penyelenggara sertifikasi elektronik, PT Indonesia Digital Identity (VIDA) mengungkap bahaya penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), seperti deepfake. Aplikasi yang awalnya digunakan sebagai hiburan kini menjadi sarana untuk mencuri identitas pengguna.

Dalam laporan bertajuk “WHAT THE FAKE?: Siapkah Bisnis di Indonesia Melawan Penipuan Deepfake yang Dihasilkan AI?” yang dirilis VIDA, sebanyak 58% profesional di Indonesia tidak mengenali teknologi Al, termasuk deepfake.

Selain itu, lebih dari 90% profesional meragukan efektivitas sistem saat ini dalam mengatasi risiko penipuan Al seperti deepfake. Serta, 72% profesional menganggap ancaman terhadap keamanan data pribadi.

Sementara itu, sebanyak 7 dari 10 profesional mengenal penipuan deepfake, utamanya tentang penipuan uang (24%) dan pencurian identitas (21%). 

Founder dan Group CEO VIDA Niki Luhur mengatakan bahwa awalnya, keberadaan teknologi deepfake dibuat hanya sekadar untuk hiburan karena bisa memanipulasi wajah dengan filter.

Namun, seiringnya berjalannya waktu, deepfake menjadi ancaman serius yang bisa merugikan secara finansial.

Dia menyampaikan bahwa setidaknya ada empat dampak dari penipuan deepfake, yaitu kerugian finansial, kerugian reputasi, peningkatan biaya operasional setelah terkena penipuan deepfake, serta penyesuaian kebijakan dan strategi.

“Deepfake awalnya ini jadi sesuatu yang lucu di sosial media. Sekarang, ini bukan hanya sekadar filter saja, tetapi bisa merubah identitas menjadi orang lain,” ungkap Niki dalam acara ‘Deepfake Shield VIDA’ di Jakarta, Rabu (24/4/2024).

Niki menjelaskan bahwa deepfake menggunakan AI untuk membuat video dan audio palsu yang realistis, sehingga mengancam keamanan bisnis dan integritas identitas. Imbasnya, deepfake meningkatkan risiko reputasi negatif dan keamanan komunikasi.

“Begitu mudahnya deepfake mengubah wajah hanya dengan sebuah aplikasi, dan aplikasinya banyak sekali bukan hanya satu, ada juga yang open source gratis dan online. Ini adalah kekuatan bahaya dari deepfake,” ujarnya.

Terlebih, ungkap Niki, sejak 2017–2019 penipuan deepfake meningkat lebih dari 900%. Bukan hanya itu, kerugian global berbasis Al mencapai lebih dari US$250 juta pada 2020.

“Deepfake semakin mampu mengelabui sistem keamanan biometrik, termasuk teknologi pengenalan wajah untuk verifikasi dan autentikasi identitas,” tuturnya.

Di samping itu, dia menambahkan bahwa kemajuan Generative Adversarial Networks (GAN) dan model Al lainnya mempermudah pembuatan deepfake, sehingga meningkatkan risiko penyalahgunaan.

Sayangnya, meski risiko ancaman deepfake disadari, Niki menuturkan banyak pelaku bisnis yang belum sepenuhnya memahami cara mengatasi penipuan deepfake.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rika Anggraeni
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper