Starlink Disebut Ancaman Bagi Telkom Cs, Pengamat: Jangan Kaget Ada yang Tutup

Leo Dwi Jatmiko, Rika Anggraeni
Jumat, 5 April 2024 | 13:46 WIB
Sebuah roket SpaceX Falcon 9 yang membawa batch ke-19 dari sekitar 60 satelit Starlink diluncurkan dari pad 40 di Cape Canaveral Space Force Station. Reuters
Sebuah roket SpaceX Falcon 9 yang membawa batch ke-19 dari sekitar 60 satelit Starlink diluncurkan dari pad 40 di Cape Canaveral Space Force Station. Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat telekomunikasi menilai kehadiran starlink akan berdampak pada bisnis operator seluler dan menara telekomunikasi dalam jangka menengah atau 5 tahun ke depan.

Pendapatan perusahaan telekomunikasi seperti Telkom Group, XL Axiata, hingga Smartfren berpotensi tergerus oleh kehadiran satelit orbit rendah (LEO) Starlink.  

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan Indonesia memang seharusnya ⁠ tidak anti terhadap pemain asing yang masuk ke bisnis telekomunikasi, selama sesuai dengan aturan yang berlaku. Aturan itu utamanya adalah mengurus perizinan. 

Dalam kasus Startlink, kata Heru, perizinan telah keluar dan starlink sudah dapat berjualan di pasar ritel. Layanan Starlink, menurutnya, menyebar ke seluruh Indonesia dan menggerus pasar pemain telekomunikasi, termasuk pemain menara dalam jangka menengah dan panjang. 

“Jangan kaget saja jika ada operator telekomunikasi yang dalam 3-5 tahun akan collaps. Kalau operator telekomunikasi gulung tikar ini juga akan berdampak pada penyedia menara,” kata Heru kepada Bisnis,  Jumat (5/4/2024). 

Heru menduga Starlink merupakan trade off atas rencana investasi Tesla di Indonesia. Oleh sebab itu,menurutnya perlu ada batasan waktu bilamana hingga 6 bulan ke depan Tesla tidak jelas jadi tidaknya investasi di Indonesia.

Trade off merupakan sebuah istilah ekonomi di mana perusahaan atau seseorang harus membuat keputusan terhadap dua hal atau lebih dengan mengorbankan salah satunya.

“Tukar guling dengan rencana investasi Tesla, kalau Tesla batal investasi, ya izin Starlink dievaluasi. Dikasih waktu 3-6 bulan,” kata Heru. 

Heru juga meminta kepada Kemekominfo untuk terus memantau dampak terhadap ISP dan operator seluler, serta mewaspadai predatory pricing, mengingat market size Indonesia yang besar. 

“Starlink dapat menjual produk dengan harga serendah mungkin sampai ISP dan Operator seluletlr berguguran, dan setelah pada berguguran mereka akan kuasai pasar dan lakukan penaikan harga. Sekarang saja dari rata-rata Rp1,5 juta Starlink sudah menurunkan tarifnya menjadi separuh, Rp750.000,” kata Heru. 

Starlink Global

Dilansir dari IEEE Spectrum, Jumat (5/4/2024), Starlink kemungkinan menawarkan jangkauan suara dan data tanpa memerlukan terminal darat yang sekarang digunakan pelanggannya di tahun-tahun mendatang.

Perlu diketahui, Starlink mengirim dan menerima SMS melalui koneksi 4G/LTE antar ponsel melalui satelit generasi terbaru yang disebut v2mini. Langkah ini mengikuti proyek serupa dari Amazon, Apple, AST SpaceMobile, Huawei, dan Lynk Global.

Pencapaian Starlink adalah contoh terbaru akan konvergensi satelit dan stasiun pangkalan seluler. Sejumlah perusahaan memanfaatkan biaya fabrikasi dan peluncuran satelit yang lebih murah, serta mengadaptasi teknologi yang ada untuk menjembatani jarak beberapa ratus kilometer antara telepon seluler dan satelit yang mengorbit.

Namun, di antara banyak permasalahan baru yang harus diatasi oleh perusahaan-perusahaan tersebut menara itu merupakan komponen seluler dari jaringan Low Earth orbit (LEO) yang bergerak dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per jam.

“Sehingga mereka memiliki sedikit waktu untuk berkomunikasi dengan telepon seluler mana pun di permukaan bumi,” demikian yang dikutip dari IEEE Spectrum.

Antena satelit v2mini baru dari Starlink berukuran 6,21 m2, tetapi Starlink merencanakan satelit kompatibel seluler yang lebih besar yang akan diluncurkan ketika roket Starship yang lebih besar tersedia.

Selain itu, perusahaan juga menjadikan satelit mereka lebih mirip menara telepon seluler dengan menerbangkannya lebih rendah dari sebelumnya.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyampaikan bahwa layanan internet berbasis satelit Starlink milik Elon Musk akan melakukan uji coba di Ibu Kota Negara (IKN). 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan bahwa proyek pengembangan konstelasi satelit Starlink telah mengantongi izin operasional di Indonesia.

Dalam hal ini, SpaceX telah mengajukan perizinan sebagai penyelenggara layanan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan Internet Service Provider (ISP).

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper