Intel Alami Rugi Rp111 Triliun Pada 2023, CEO Akui Salah Ambil Keputusan

Redaksi
Kamis, 4 April 2024 | 08:40 WIB
Papan logo Intel di kantor pusatnya di Santa Clara, California, AS/Bloomberg
Papan logo Intel di kantor pusatnya di Santa Clara, California, AS/Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Intel, perusahaan teknologi yang berbasis di Amerika Serikat, dilaporkan alami kerugian operasional yang signifikan dalam bisnis produksi chip miliknya.

Total kerugian perusahaan tersebut mencapai sekitar US$7 miliar atau Rp 111,3 triliun pada 2023, lebih besar ketimbang kerugian pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$5,2 miliar atau Rp 82,6 triliun.

Kerugian operasional tersebut merupakan pukulan telak bagi perusahaan pembuat chip tersebut saat mencoba untuk kembali mendapatkan keunggulan teknologi yang hilang dalam beberapa tahun terakhir kepada Taiwan Semiconductor Manufacturing.

Intel memperkirakan kerugian dari bisnis foundrynya akan mencapai puncak pada tahun 2024 dan akhirnya mencapai titik impas antara kuartal ini dan akhir tahun 2030.

"Intel Foundry akan mendorong pertumbuhan pendapatan yang signifikan bagi Intel dari waktu ke waktu. Tahun 2024 adalah titik terendah untuk kerugian operasional perusahaan," kata CEO Patrick Gelsinger dalam panggilan dengan para investor.

Melansir dari Reuters Rabu (3/4/2024), menurut Gelsinger, bisnis foundry terbebani oleh keputusan yang buruk, termasuk satu tahun yang lalu menolak menggunakan mesin ultraviolet ekstrim (EUV) dari perusahaan Belanda ASML. Meskipun mesin tersebut bernilai lebih dari US$150 juta, namun lebih efisien secara biaya dibandingkan dengan alat pembuatan chip sebelumnya.

Salah satu dampak dari kesalahan keputusan tersebut adalah Intel telah melakukan outsourcing 30% dari total jumlah wafer mereka ke produsen kontrak eksternal seperti TSMC, demikian ungkap Gelsinger. Intel bermaksud untuk mengurangi angka tersebut menjadi sekitar 20%.

Intel kini telah beralih untuk menggunakan alat EUV, yang akan mencakup lebih banyak kebutuhan produksi seiring dengan penghapusan bertahap mesin-mesin lama. "Di era pasca-EUV, kami melihat bahwa kami sangat kompetitif sekarang dalam harga dan kinerja," ujar Gelsinger.

Dibawah kepemimpinan CEO Patrick Gelsinger, Intel telah merancang rencana untuk tetap fokus pada produksi prosesor internalnya, sambil juga memperluas bisnis foundry eksternalnya untuk memproduksi chip bagi perusahaan lain.

Intel berencana menghabiskan US$100 miliar untuk membangun atau memperluas pabrik-pabrik chip di empat negara bagian di Amerika Serikat. Rencana pemulihan bisnisnya bergantung pada meyakinkan perusahaan-perusahaan luar untuk menggunakan layanan manufaktur mereka.

Langkah ini bertujuan untuk mempertahankan posisi Intel sebagai salah satu dari sedikit perusahaan di Amerika Serikat yang terlibat dalam manufaktur semikonduktor canggih secara domestik.

Keberhasilan inisiatif ini juga telah membantu Intel memperoleh dukungan dana sebesar hampir US$20 miliar atau Rp 318 triliun melalui CHIPS and Science Act bulan lalu. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Redaksi
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper