Intelijen AS Duga TikTok Jadi Alat China Pengaruhi Hasil Pemilu

Redaksi
Rabu, 13 Maret 2024 | 12:57 WIB
Bendera China membayangi logo TikTok yang terpampang di layar sebuah smartphone./Bloomberg-Hollie Adams
Bendera China membayangi logo TikTok yang terpampang di layar sebuah smartphone./Bloomberg-Hollie Adams
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Intelijen Amerika Serikat (AS) menduga sosial media TikTok digunakan China sebagai alat untuk memengaruhi hasil Pemilihan Umum (Pemilu) di negeri dengan julukan Paman Sam itu.

Dalam sidang komite intelijen Dewan Perwakilan Rakyat, Direktur Intelijen Nasional AS Avril Haines memperingatkan bahwa China kemungkinan akan gunakan TikTok untuk memberikan pengaruh pada pemilu AS 2024.

Melansir dari Reuters Rabu (13/3/2024), ketika ditanyakan oleh perwakilan dari partai Demokrat Raja Krishnamoorthi jika Partai Komunis China akan gunakan TikTok untuk memengaruhi pemilu, Haines mengatakan bahwa dia tidak bisa menyangkal bahwa partai itu akan menggunakanya.

"Kita tidak bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa China akan menggunakannya," kata Avril Haines.

Haines menjawab pertanyaan itu menyoroti kekhawatiran yang diungkapkan oleh lembaga intelijen AS mengenai penggunaan TikTok dalam pemilihan pada 2022. Laporan Ancaman Tahunan dari Kantor Direktur Intelijen Nasional atau Office of the Director of National Intelligence (ODNI) mengungkapkan bahwa akun TikTok yang dipakai untuk alat propaganda pemerintah China diduga menargetkan kandidat dari kedua partai politik selama pemilihan berlangsung.

"Akun TikTok yang dijalankan oleh kelompok propaganda China dilaporkan menargetkan kandidat dari kedua partai politik selama pemilu Amerika Serikat pada 2022."

Minggu lalu, Dewan yang dikuasai oleh Partai Republik dijadwalkan untuk mempertimbangkan sebuah undang-undang yang dapat memaksa TikTok untuk melepaskan diri dari perusahaan induknya, ByteDance, atau menghadapi larangan nasional. 

TikTok menyatakan belum dan tidak akan membagikan data pengguna AS kepada pemerintah China.

Dilansir dari CNN Rabu (13/3/2024) juru bicara TikTok mengatakan kepada CNN bahwa mereka secara rutin mengambil tindakan terhadap perilaku yang menipu, termasuk jaringan pengaruh terselubung di seluruh dunia, dan transparan dalam melaporkannya secara publik. 

"TikTok telah melindungi platform kami melalui lebih dari 150 pemilu secara global dan terus bekerja sama dengan komisi pemilu, pakar, dan pemeriksa fakta untuk melindungi komunitas kami selama tahun pemilu bersejarah ini,” katanya.

Direktur FBI Christopher Wray juga menyampaikan penilaiannya bahwa TikTok mengancam keamanan nasional. Dia mempertanyakan mengenai kesediaan warga Amerika untuk memberikan akses datanya ke China. 

Pada Januari 2024 tercatat jumlah pengguna TikTok di AS menyentuh angka 148 juta. 

“Warga Amerika perlu bertanya pada diri mereka sendiri apakah mereka ingin memberi pemerintah China kemampuan untuk mengontrol akses terhadap data mereka,” kata Wray, seraya menambahkan bahwa hal ini pada akhirnya dapat membahayakan perangkat mereka.

Platform media sosial seperti Facebook dan X, telah lama menjadi sorotan dari para anggota kongres AS terkait penanganan kampanye disinformasi asing yang muncul di platform mereka. Namun, TikTok telah menjadi fokus utama beberapa minggu ini.

(Muhammad Diva Farel Ramadhan)

Penulis : Redaksi
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper