NFT Rontok, Bisnis Model Lemah atau Monkey Business?

Crysania Suhartanto
Minggu, 24 September 2023 | 18:02 WIB
Warga mengakses situs Opensea, marketplace yang menjual karya non-fungible token (NFT) di Jakarta, Minggu (13/2/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Warga mengakses situs Opensea, marketplace yang menjual karya non-fungible token (NFT) di Jakarta, Minggu (13/2/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penurunan nilai Non Fungible Token (NFT) yang terus terjadi, hingga tidak berharga, disinyalir akibat bisnis model komoditas tersebut tidak kuat. Akademisi bahkan menyebut bisnis ini mirip monkey business.  

Dikutip dari Business Insider, hanya dua tahun setelah puncak euforia NFT, koleksi digital ini sudah tidak ada harganya.

Business Insider melaporkan, lebih dari 73.000 koleksi NFT yang sudah memiliki nilai 0 ETH atau gratis. Mirisnya, koleksi tersebut mencapai 95 persen dari keseluruhan koleksi yang ada di pasar.

Lebih lanjut, koleksi termahal di dunia dapat dibanderol hingga harga US$91,8 juta atau sekitar Rp1,4 triliun pada masanya. Namun, kini harga NFT yang paling mahal hanya berkisar US5-100 atau sekitar Rp76.000 hingga Rp1,5 juta.

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward mengatakan runtuhnya nilai NFT karena bisnis model yang tidak kuat. Dia juga menduga bahwa bisnis ini seperti monkey business.

Monkey business adalah strategi bisnis yang dilakukan dengan cara merugikan orang lain untuk mengambil keuntungan pribadi. Istilah tersebut merujuk pada perilaku monyet yang pergi atau kabur setelah berhasil mendapatkan keuntungan atau makanan.

“Lebih seperti orang menjadi terpukau/terhipnotis oleh pembuat monkey business, yang membeli dan berinvestasi terjebak tanpa melihat sebenarnya apa yg diperlukan pasar atau customer secara langsung,” kata Ian kepada Bisnis, Minggu (24/9/2023). 

Ian juga berpendapat bahwa saat ini banyak dijumpai NFT yang sebenarnya berupa produk junk atau sampah, tetapi dipoles sehingga seakan-akan memiliki nilai yang tinggi pada masa depan. 

Hal itu yang membuat orang kemudian tertarik untuk membeli NFT, yang sebenarnya tidak memiliki nilai jual. 

“Karena sudah dipoles seakan akan memiliki future value atau nilai masa depan yang tinggi, sehingga present value atau nilai saat ini tinggi juga,” ujar Ian.

Oleh karena itu, Ian mengatakan fenomena seperti NFT ini akan berulang lagi ke depannya. Hal ini dikarenakan pasti ada sejumlah orang-orang tertentu yang mampu menyulap barang junk jadi emas, sehingga memiliki peminat yang banyak. 

“Pasti akan ada banyak bisnis serupa NFT. Orang-orang tertentu memiliki kemampuan untuk menjual suatu produk "junk atau sampah" menjadi bernilai sangat tinggi karena peminatnya banyak,” ujar Ian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper