Perlambatan NFT Tak Berdampak pada Metaverse

Crysania Suhartanto
Selasa, 11 Juli 2023 | 14:36 WIB
Kode biner dan kata metaverse yang ditampilkan di layar laptop. Reuters
Kode biner dan kata metaverse yang ditampilkan di layar laptop. Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tokocrypto, platform jual-beli bitcoin dan aset kripto Indonesia, meyakini bahwa pelemahan nilai non-fungible token (NFT) atau token yang tidak dapat ditukarkan, tak akan berdampak pada pengembangan metaverse di Indonesia.

VP Corporate Communications Tokocrypto Rieka Handayani mengatakan bahwa penjualan NFT yang menurun tidak secara langsung menggambarkan nasib atau masa depan metaverse secara keseluruhan. NFT hanyalah salah satu aspek dari metaverse yang berkembang. 

Metaverse sendiri terus berkembang dan menarik minat dari berbagai sektor, termasuk teknologi, hiburan, dan keuangan. 

“Banyak perusahaan besar dan pengembang yang berinvestasi dalam pengembangan metaverse dengan harapan menciptakan pengalaman digital yang lebih interaktif dan terhubung,” kata Rieka kepada Bisnis, Selasa (11/7/2023). 

Dia menambahkan walaupun ada fluktuasi dalam penjualan NFT, hal itu tidak harus dianggap sebagai penilaian terhadap nasib metaverse. Namun, dapat menjadi salah satu aspek yang mungkin harus dicermati dalam mengobservasi perkembangan metaverse secara keseluruhan. 

Dia menuturkan dalam memahami potensi metaverse, penting untuk melihat lebih dari sekadar penjualan NFT dan mempertimbangkan berbagai faktor lain seperti adopsi teknologi, perkembangan platform, interaksi pengguna, dan inovasi konten yang terjadi di dalam ekosistem metaverse.

Perusahaan analitik IntotheBlock melaporkan bahwa NFT (non-fungible token) mengalami kinerja terburuk mingguannya sejak Juni 2021. NFT dikabarkan hanya diperjualbelikan sebanyak 11.6.000 kali merosot lebih dari 100 persen secara tahunan. 

Data IntotheBlock juga menyebut bahwa jumlah penjualan pada periode 3-10 Juli itu mengalami penurunan hampir 100 persen dari angka tertinggi tahunan, dengan jumlah transaksi mencapai sebesar 510.905 transaksi.  

Senada, Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan meski metaverse dan NFT dipakai oleh Pengguna blockchain, pelemahan NFT tidak berarti redupnya metaverse. 

Selama ini, kata Huda, NFT terus melambat karena sudah tidak booming serta masyarakat melihat overvalue di NFT. Sedangkan produk lainnya seperti kripto meskipun melambat tetapi peminatnya masih banyak. 

Dia berpendapat bahwa metaverse lebih erat kaitannya dengan aset kripto dibandingkan dengan NFT. 

“Jadi saya rasa selama aset kripto masih berkembang metaverse pun akan sama. Tetapi terkait di Indonesia, kita masih tidak relevan berbicara mengenai metaverse karena secara teknologi belum sampai, pun dengan SDM,” kata Huda. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper