Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gantikan Kartu Tol, Siapkah Indonesia Terapkan Sistem MLFF di Jalan Tol?

Sistem MLFF bakal diterapkan di Jalan Tol mulai akhir 2022 untuk menggantikan kartu tol atau e-Toll card. Sudah siapkah Indonesia menerapkan sistem MLFF?
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  21:38 WIB
Pengemudi melakukan transaksi di salah satu gerbang tol di Jakarta, Rabu (5/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Pengemudi melakukan transaksi di salah satu gerbang tol di Jakarta, Rabu (5/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Seiring proses digitalisasi yang berkembang pesat, saat ini pemerintah juga tengah merencanakan sistem pembayaran tarif tol yang lebih canggih dan memudahkan para pengguna jalan tol.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) berencana mengimplementasikan sistem transaksi tol nontunai nirsentuh atau Multi Lane Free Flow di jalan tol (MLFF) yang akan dilakukan secara bertahap di beberapa ruas jalan tol Tanah Air mulai akhir 2022.

Kepala BPJT Kementerian PUPR Danang Parikesit mengatakan saat ini sedang dilakukan pengembangan atas infrastruktur sistem transaksi tol nontunai nirsentuh berbasis MLFF tersebut. Pengembangan dilakukan baik dari sisi perangkat lunak maupun perangkat keras yang saat ini dikembangkan oleh Badan Usaha Pelaksana (BUP) Sistem MLFF.

"Dengan adanya penerapan teknologi transaksi MLFF yang akan diterapkan di jalan tol di Indonesia ini, nantinya pengendara selaku pengguna jalan tidak perlu lagi berhenti di gerbang tol apalagi mengantre tapping kartu uang elektronik saat melakukan pembayaran," kata Danang, Senin (23/5/2022).

Menurutnya, kesiapan infrastruktur telekomunikasi dinilai jadi salah satu faktor penting yang harus dikaji seiring rencana implementasi sistem MLFF yang akan diberlakukan akhir tahun ini.

Infrastruktur Telekomunikasi

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan layanan tol sesungguhnya bukan hanya di pintu tol, tetapi utamanya di jalan tol itu sendiri. Jadi, jangan sampai tidak adanya sinyal ponsel jadi kendala ketika pengendara melewati pintu tol tersebut.

"Perlu dipastikan infrastruktur mendukung. Sebab jika terkait ponsel, maka sinyal internet harus tersedia dan baik. Jangan sampai sinyal tidak ada kemudian jadi kendala ketika melewati pintu tol," ucap Heru.

Menurutnya, bukan saja harus mengkaji kesiapan infrastruktur sebelum sistem tersebut akhirnya diberlakukan, tetapi pemerintah juga perlu mencari solusi kemungkinan terjadinya kemacetan panjang dan lama seperti arus mudik dan arus balik Lebaran beberapa waktu lalu atau saat waktu-waktu padat pada pagi dan sore hari di sekitar Jabodetabek.

Jika ingin menggunakan metode baru, sambung Heru, perlu diujicoba di pintu tol tertentu lebih dulu. Sebab, kalau tiba-tiba semua diganti dan kemudian terjadi gangguan, tentu akan menimbulkan masalah baru.

Terkait kesiapan infrastruktur ini, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhamad Arif menilai perlu dikoordinasikan dengan operator telekomunikasi, karena mengarah ke penggunaan mobile broadband.

"Pemerintah atau penyelenggara jasa dapat menginisiasi koordinasi dan pengecekan lokasi-lokasi gerbang tol. Pemerintah juga harus memprioritaskan konektivitas di titik-titik pembayaran tol dengan tetap mengantisipasi apabila ada gangguan aplikasi," ujar Arif.

Kesiapan Indonesia

Menurut Arif, Indonesia saat ini telah siap menerapkan sistem MLFF tersebut, tinggal bagaimana dilakukan sosialisasi yang lebih masif agar masyarakat lebih mudah menggunakan aplikasinya.

Senada, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Mastel) Sigit Puspito Wigati Jarot menyebut Indonesia seharusnya sudah siap dengan sistem MLFF ini. Namun, sebelum diimplementasikan, tentunya harus ada studi kelayakan baik secara teknis, ekonomis, dan lainnya.

Lebih lanjut dia berharap penerapan sistem MLFF ini bisa mengurangi kemacetan di jalan tol, terutama yang disebabkan oleh antrean pembayaran. Meski begitu, keberadaan dan kondisi sinyal yang baik harus dipastikan.

"Jadi secara teknis terkait sinyal bisa dikondisikan agar kualitasnya baik. Risiko gangguan wajar jika tetap ada, dan itu bisa dikalkulasi dengan baik dan diantisipasi, sehingga tidak banyak mengganggu ketika kejadian," tutur Sigit.

Terpisah, PT XL Axiata Tbk. (XL Axiata) memastikan jaringannya siap mendukung penerapan sistem MLFF. Pasalnya, saat ini jaringan XL Axiata sudah tersedia di seluruh ruas tol yang sudah beroperasi dan sejauh ini hampir semuanya sudah tercover dengan 4G.

"Kami berkeyakinan ketersediaan jaringan kami di seluruh ruas tol yang hampir semuanya sudah tercover 4G akan dapat mendukung kelancaran transaksi dengan teknologi tersebut," tegas Group Head Corporate Communications XL Axiata Tri Wahyuningsih.

Sementara itu, Vice President Corporate Communications Telkomsel Saki Hamsat Bramono mengatakan saat ini pihaknya memiliki teknologi jaringan broadband terlengkap khususnya 4G, yang telah melayani lebih dari 96 persen wilayah populasi di Indonesia.

Cakupan tersebut, imbuh Saki, juga diprioritaskan untuk dapat melayani kawasan yang memiliki kepadatan trafik komunikasi, salah satunya jalur tol di seluruh Indonesia.

"Telkomsel berkomitmen untuk secara konsisten memastikan seluruh kawasan jalur tol telah terlayani akses jaringan broadband berteknologi terkini berkualitas yang andal, baik untuk pemenuhan kebutuhan aktivitas digital masyarakat maupun dukungan untuk implementasi teknologi transportasi berbasis digital," tuturnya.

Bukan itu saja, dia bahkan menegaskan bahwa Telkomsel juga secara bertahap dan terukur terus mengembangkan jaringan broadband terkini 5G, yang diharapkan akan makin luas adopsi pemanfaatannya, termasuk potensi untuk mendukung penerapan teknologi transportasi digital yang lebih seamless seperti MLFF.

Cara Kerja MLFF

Sebagai informasi, implementasi sistem transaksi tol nontunai nirsentuh berbasis MLFF ini akan dilakukan secara bertahap di beberapa ruas jalan tol. Rencananya, sistem ini akan mulai diberlakukan akhir tahun atau Desember 2022.

Dengan adanya penerapan teknologi transaksi MLFF ini, nantinya pengendara selaku pengguna jalan tidak perlu lagi berhenti di gerbang tol apalagi mengantre tapping kartu uang elektronik saat melakukan pembayaran.

Untuk tahap awal implementasi dimulai dengan masa transisi pada beberapa ruas jalan tol yang masih dalam pembahasan, di mana sebagian gardu pada setiap gerbang tol masih dapat menggunakan kartu tol elektronik.

Nantinya, teknologi yang diterapkan pada MLFF yaitu menggunakan Global Navigation Satelit System (GNSS), yakni sistem yang memungkinkan melakukan transaksi melalui aplikasi di smartphone dan dibaca melalui satelit. Dengan MLFF, saat kendaraan melewati pintu tol, saldo uang elektronik yang ada pada aplikasi di ponsel akan langsung terpotong.

Adapun, perangkat yang rencananya digunakan pada transaksi nirsentuh MLFF adalah Electronic On-Board Unit atau dikenal dengan E-OBU, dan perangkat Electronic Route Ticket. Pengguna dapat memilih titik masuk dan keluar sesuai rute perjalanan sekali pakai.

Penerapan transaksi nirsentuh MLFF tentunya memiliki manfaat sangat besar karena bisa menghilangkan waktu antrean menjadi nol detik yang sebelumnya maksimal 5 detik dengan penggunaan uang elektronik (e-Toll).

Manfaat lain adalah efisiensi biaya operasi dan juga meminimalisir bahan bakar kendaraan. Selain memudahkan pengguna jalan karena bayar tol tanpa hambatan, informatif, aman, nyaman dan berkelanjutan dan juga dapat meningkatkan efisiensi pendapatan tol, serta mengurangi tingkat kemacetan pada jam-jam padat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

internet jalan tol telekomunikasi tarif tol Multi Lane Free Flow (MLFF)
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top