Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Beban Biaya Operasional Operator Seluler Naik Kuartal I/2022, Ini Alasannya

Beban operasional para operator seluler didorong aksi ekspansif antara lain berupa perluasan jaringan.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 12 Mei 2022  |  17:12 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Operator seluler Tanah Air menghadapi kenaikan beban biaya operasional pada kuartal I/2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penyebabnya beragam, di antaranya biaya pembangunan jaringan, regulasi, penjualan dan pemasaran, serta faktor lainnya.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan pada kuartal I/2022, beban biaya operasional meningkat 14 persen (YoY) dari Rp3,13 triliun jadi Rp3,57 triliun. 

"Meningkatnya biaya operasional ini dipengaruhi dari meningkatnya beban biaya regulasi serta biaya penjualan dan pemasaran," katanya, Kamis (12/5/2022).

Bukan itu saja, untuk membiayai pembangunan jaringan dan mendorong pertumbuhan pendapatan, Dian menyebut capitalized capex menurun 35 persen YoY jadi Rp1,23 triliun. 

Menurutnya, penurunan ini disebabkan karena faktor jadwal pelaksanaan pembelanjaan modal meskipun jumlah belanja modal secara tahunan masih akan tetap sama. 

"Rencananya pada  2022 ini XL Axiata juga akan mengalokasikan belanja modal dengan nilai relatif sama dengan tahun lalu sekitar Rp9 triliiun," tambah Dian.

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan periode kuartal I/2022, PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatat beban total yang ditanggung perusahaan melonjak 50,52 persen YoY dari Rp6,41 triliun jadi Rp9,65 triliun. Kenaikan beban terbesar datang dari pos penyelenggaraan jasa yang nilainya mencapai Rp5,28 triliun.

Adapun kenaikan beban penyelenggaraan jasa ini, sejalan dengan peningkatan jumlah sites dan pendapatan sebagai dampak dari penggabungan usaha. Imbasnya, beban frekuensi, interkoneksi, pemeliharaan, utilitas, sewa, sewa sirkit, USO, serta instalasi melonjak.

Namun begitu, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha menyebut perusahaan berhasil membukukan keuangan yang solid dengan pertumbuhan yang kuat pada pendapatan dan EBITDA di kuartal I/2022.

"Hal ini didorong oleh peningkatan basis pelanggan, inovasi produk, program integrasi merger yang efektif, dan pengendalian biaya yang bijaksana," ucapnya.

Dia menambahkan, pasca merger Indosat dengan PT Hutchison 3 per 4 Januari lalu, perusahaan kini fokus pada pencapaian visi untuk jadi perusahaan telekomunikasi digital paling terpilih di Indonesia.

Pada kuartal I/2022, lanjutnya, fokus keduanya adalah mengintegrasikan dua perusahaan untuk memaksimalkan sinergi biaya dan pengeluaran modal, bersamaan dengan pencapaian peluang di sisi pendapatan.
 
 
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top