Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ternyata Segini Volume Air yang Ada di Bumi

Menurut Climate Change Post, jika permukaan laut global naik hanya 2 inci (5 cm), kota-kota dataran rendah, seperti Mumbai dan Kochi di India Abidjan di Pantai Gading, dan Jakarta di Indonesia akan terendam.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 11 Januari 2022  |  14:28 WIB
Ternyata Segini Volume Air yang Ada di Bumi
Planet Bumi - Youtube

Bisnis.com, JAKARTA - Bumi dikenal sebagai planet biru. Julukan ini tidak lepas dari bumi yang memiliki pasokan air berlimpah. Menurut survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sekitar 71 persen dari permukaan bumi ditutupi dengan air, dan 96,5 persen dari pasokan air di planet ini, ada di lautan.

Namun demikian, air tidak hanya tinggal di bawah, sebagai bagian dari siklus air (hidrologi), benda cair ini bergerak naik ke atmosfer.

Menurut USGS, volume semua air di Bumi diperkirakan hampir 332,5 juta mil kubik (1,4 miliar kilometer kubik). Untuk memasukkannya ke dalam konteks, 1 mil kubik air mengandung sekitar 1,1 triliun galon. Jumlah ini cukup mengisi 1,66 juta kolam renang ukuran Olimpiade.

Akan tetapi, sebagai hasil dari siklus hidrologi, air di bumi tidak pernah berada di satu tempat terlalu lama. Air ini menguap, berubah menjadi uap, mengembun untuk menciptakan awan, dan jatuh kembali ke permukaan sebagai presipitasi (perubahan bentuk dari uap air di atmosfer menjadi curah hujan), kemudian siklus terulang kembali. Adapun air yang menguap tetap berada di atmosfer selama sekitar 10 hari.

"Kira-kira setara dengan 30 mm (1,2 inci) hujan dalam bentuk uap yang tersedia untuk jatuh di setiap titik di permukaan bumi," ujar Frédéric Fabry, direktur J. Stewart Marshall Radar Observatory mengutip dari Live Science, Selasa (11/1/2022)

Mengingat luas permukaan Bumi sekitar 197 juta mil persegi (510 juta kilometer persegi), kata dia ada sekitar 37,5 juta miliar galon air di atmosfer. Jika semua massa ini jatuh sekaligus, itu akan menaikkan permukaan laut secara global sekitar 1,5 inci (3,8 sentimeter).

Memang tidak mungkin semua uap ini jatuh sekaligus, namun apabila dibayangkan, terjadi kenaikan permukaan laut yang begitu dramatis dan tentu akan sangat mengerikan.

Menurut Climate Change Post, jika permukaan laut global naik hanya 2 inci (5 cm), kota-kota dataran rendah, seperti Mumbai dan Kochi di India Abidjan di Pantai Gading, dan Jakarta di Indonesia akan terendam.

Selain itu, menurut sebuah studi pada 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, jika permukaan laut naik antara 2 dan 4 inci (5 dan 10 cm), itu akan menggandakan frekuensi banjir di sejumlah wilayah, terutama di daerah tropis.

Fabry menjelaskan jumlah air di atmosfer dikendalikan oleh keseimbangan antara aliran yang masuk ke atmosfer dan aliran yang keluar. Aliran yang terjadi di atmosfer dikendalikan oleh penguapan dari permukaan, dan itu tergantung pada apakah ada air di permukaan, juga pada suhu. Menguapkan air ini membutuhkan banyak energi, dan energi berasal dari panasnya atmosfer. “Lautan hangat adalah tempat penguapan terbesar, dan wilayah daratan Arktik adalah tempat terkecil,” sebutnya.

Selain itu dia menerangkan jumlah rata-rata air di atmosfer bervariasi menurut musim dan lokasi, tetapi secara umum, lautan tropis dan daerah tropis basah memiliki uap air paling banyak di atasnya, dan ini bergerak sesuai musim. “Wilayah daratan Arktik atau daerah pegunungan tinggi memiliki paling sedikit air karena udara hangat jauh lebih baik untuk membawa air,” tutur Fabry.

Faktor lain yang berperan dalam penguapan termasuk geologi dan topografi, seperti medan miring, yang mempengaruhi seberapa cepat udara bergerak naik ke atmosfer, tempat dia mendingin. “Akibatnya, daerah pegunungan yang melawan arah angin mendapatkan lebih banyak curah hujan," kata Fabry.

Dia menambahkan perubahan iklim dapat mempengaruhi jumlah uap di atmosfer dalam beberapa dekade mendatang. "Jika suhu menjadi lebih hangat, penguapan dari permukaan akan meningkat, demikian juga jumlah air di atmosfer," tutup Fabry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

air minum bumi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top